Bahaya Menentang Poligami

Syari`at Islam adalah perkara yang harus menjadi keyakinan mutlak bagi seorang muslim. Mengingkari sebagian atau bahkan keseluruhan dari syari`at Islam, mengakibatkan pelakunya terancam kufur dan batal keislamannya. Ini harus kita fahami dan menjadi dasar pandang kita dalam memahami segala permasalahan di dalam agama ini. Dan termasuk ketika kita berbicara tentang poligami, maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang salah satu bagian dari syari`at Islam, sebab poligami diakui ataupun tidak adalah termasuk perkara yang diatur di dalam Islam. 
Polemik Seputar Hukum Poligami
Allah Ta`ala berfirman di dalam surat An Nisaa` (3):
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”
Para ulama diantaranya Asy Syaikh Ibn Baaz Rahimahullah menjelaskan bahwa ayat diatas menunjukkan bahwa hukum asal pernikahan bagi laki-laki adalah poligami bagi laki-laki yang mampu dan tidak ada kekhawatiran untuk tidak terjerumus kedalam kedzhaliman. Sebab di dalam ayat tersebut disebutkan perintah menikah itu dengan perintah menikahi “dua, tiga atau empat” wanita. Ini adalah kondisi normal pada laki-laki. Adapun bila laki-laki itu berada di dalam kondisi abnormal (tidak normal) yakni khawatir tidak bisa berbuat adil (adil dalam hal yang mampu yakni giliran menginap dan nafkah, adapun dalam hal cinta dan kehangatan, maka tidak dituntut untuk berlaku adil karena khusus untuk masalah hati, Allah-lah yang membolak-balikkan dan mengaturnya, bahkan Rasulullah shalallahu `Alayhi Wasallam sendiri mengatakan bahwa beliau lebih cenderung kepada `Aisyah daripada istri beliau yang lainnya) kepada istri-istrinya, maka dilarang menikah lebih dari satu, sebab bila laki-laki abnormal bertindak sebagai pria normal, yakni menikah lebih dari satu, maka akan menimbulkan kerusakan yakni ia akan terjatuh kedalam perbuatan dzhalim. Maka sesungguhnya Allah menciptakan bagi laki-laki itu membutuhkan lebih dari satu istri dan Allah menciptakan wanita itu mencukupkan diri dengan satu suami. Demikianlah ketentuan dari Allah Ta`ala kepada masing-masing pria dan wanita dan kita dituntut bersabar di dalam menjalani ketentuan tersebut. Bahkan di dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam mengancam orang yang tidak menyukai perihidup Nabi Shalallahu `Alayhi Wasallam ini:
“Mengapakah orang-orang ada satu di antaranya mengatakan, “Adapun saya akan selalu berpuasa tidak akan berbuka,” dan ada lainnya mengatakan, “Adapun saya akan selalu bangun malam tidak akan tidur,” dan orang lainnya berkata, “Saya tidak akan menikahi wanita,” dan yang lainnya mengatakan, “Saya tidak akan makan daging.” Tetapi saya sendiri (Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam) berpuasa dan berbuka, bangun malam dan tidur, menikahi para wanita, makan daging, maka barangsiapa yang benci terhadap sunnahku (perihidupku ini), maka bukanlah ia termasuk golonganku.” H.R. Bukhari dan Muslim di dalam Shahih keduanya.
Pemahaman dan Pengamalan Para Shahabat Nabi
Allah dan RasulNya mengajak kita menafsirkan agama Islam dengan penafsiran yang baku dan standar yakni pemahaman para shahabat nabi Shalallahu `Alalayhi Wasallam, sebab para shahabat nabi adalah orang yang paling faham tentang agama ini dibandingkan dengan generasi sesudahnya dan mustahil agama ini sampai kepada kita kecuali melalui para shahabat nabi. Dalam hal ini Al Imam Al Bukhary meriwayatkan di dalam Shahihnya bahwa ketika Ibnu Abbaas mendapati Sa`ied Bin Jubair, Ibnu Abbaas mengatakan kepada Sa`ied Bin Jubair seorang tabi`in:”apakah kamu sudah nikah?” kata Sa`id:”belum” Ibnu Abbas:”menikahlah, karena sesungguhnya orang yang terbaik di ummat ini ialah yang paling banyak istrinya”. Kemudian Ibnu hajar Al `Atsqalaany mengomentari riwayat ini:”coba kita lihat, orang-orang terbaik dari ummat ini, Rasulullah Shalallahu `layhi Wasallam adalah orang yang paling banyak istrinya diantara kita, kemudian Abu Bakar Ash Shiddiiq adalah orang yang paling banyak istrinya setelah Rasulullah Shalallahu `Alalyhi Wasallam, kemudian setelah itu Umar Ibnul Khaththaab, kemudian Utsman Ibn Affaan, kemudian `Ali Ibn Abi Thaalib sepeninggal Fathimah Bintu Rasulillah Shalallahu `Alalyhi Wasallam.” Ini adalah pemahaman dan pengamalan para sahabat nabi tentang keutamaan berpoligami. Maka sangat lucu kalau ada orang yang mengatakan bahwa poligami itu haram atau tidak disyari`atkan sementara orang-orang terbaik dalam ummat ini (Islam) yakni Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam dan para shahabatnya melakukannya.
Poligami, Sunnah yang Ditinggalkan
Setelah kita memahami bahwa poligami merupakan sunnah (prilaku hidup) orang-orang terbaik di muka bumi ini yakni Nabi Shalallahu `Alayhi Wasallam dan para shahabatnya, maka bila kita melihat kepada kenyataan sekarang, kita akan dapati bahwa poligami itu merupakan sunnah yang telah ditinggalkan (assunnah al mahjuurah). Sedemikian asingnya amalan ini, hingga sampai pada tingkat mayoritas orang menilai jelek orang yang melakukannya (berpoligami) dan mengejek mereka dengan sebutan nafsu besar, kedzhaliman, selingkuh dan ucapan-ucapan yang jelek lainnya.
Manfaat Poligami
Manfaat poligami sesungguhnya bukan hanya dapat dirasakan bagi laki-laki, namun juga bagi wanita.
Bagi Laki-laki
Berpoligami dengan tujuan menyalurkan syahwat, ini lebih utama lagi. Karena didasari kekhawatiran akan terjatuh kepada yang haram. Jejaka yang normal pasti memiliki rasa penasaran kepada perempuan, biasanya standarnya masih rendah, yakni asal wanita. Begitu dia menikah, maka rasa penasaran kepada perempuan itupun tertunaikan dan akhirnya dengan menikah itu dapat menahan pandangannya dari yang haram. Namun terkadang rasa penasaran itu masih tetap muncul lagi. Sehingga kadang muncul pertanyaan di dalam dirinya, apakah perempuan lain berbeda rasanya dengan yang ia miliki?, maka ketika penasaran itu muncul, ia diberi peluang oleh Islam untuk menikahi istri ke-2. Setelah menikah untuk ke-dua kalinya, rasa penasaran itupun tertunaikan dan ternyata ia merasakan perempuan itu kurang lebih rasanya sama. Sehingga dengan pengalaman yang demikian itu menjadikan ia lebih kuat kemampuannya untuk menundukkan pandangan dari yang haram. Bila rasa penasaran dan syahwat kepada perempuan itu ternyata masih demikian deras mengalir di dalam dirinya, maka ia masih diberi kesempatan untuk istri ke-3 dan terakhir yang ke-4. Maka seseorang yang berpoligami akan memiliki benteng berlapis yang kokoh yang akan melindungi dia dari dahsyatnya salah satu fitnah terbesar di dunia ini yakni fitnah syahwat.
Bagi Wanita
Suatu hal yang manusiawi dan tidak bisa dipungkiri, bahwa ketika dimadu, seorang wanita pasti merasakan kecewa, keberatan dan sakit hati. Hal ini tidak jauh berbeda dengan laki-laki, tatkala Allah ta`ala mewajibkan kaum laki-laki untuk qital (jihad dalam bentuk perang/membunuh), maka kaum laki-lakipun sebenarnya tidak senang bahkan membenci amalan tersebut. Isi hati kaum laki-laki ini dibongkar dan diakui sendiri oleh Allah Ta`ala didalam surat Al Baqarah 216:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Namun demikian itulah syari`at Allah. Dimana kita dituntut untuk menundukkan segala bentuk hawa nafsu, suka dan tidak suka, serta kepuasan dan kekecewaan kita itu untuk dikontrol oleh syari`at Allah. Hal itu konsekwensi logis terhadap pengakuan keimanan kita kepada Allah Ta`ala. Makanya Allah Ta`ala menegaskan bahwa belum tentu sesuatu yang kita benci itu jelek bagi kita dan sebaliknya belum tentu yang kita sukai itu baik bagi kita, sebab hanya Allah-lah satu-satunya pihak yang paling mengetahui baik buruknya sesuatu bagi hambanya.
Dalam hal ini ujian semacam itu dialami oleh kaum wanita dalam bentuk syari`at poligami. Dimana perasaan dan naluri wanita tidak menyukai amalan tersebut. Namun justru disinilah letak ujian bagi keimanan seorang wanita mukmin. Kekecewaan wanita kepada suaminya yang memadunya bila disalurkan kepada sunnah, yakni menyikapinya dengan ikhlash dan sabar menghadapai ketentuan Allah atas dirinya itu, maka akan meningkatkan derajatnya menjadi khairun nisa` (wanita shalihah), akan tetapi bila kekecewaan itu disalurkan kepada hawa nafsu syaithaniyyah yakni lepas dari kontrol agama dalam meluapkan kekecewaan tersebut dan semata-mata mengikuti naluri kewanitaannya, maka sikap tersebut akan menghancurkan hidupnya dan akan menyebabkan perceraian serta malapetaka dalam hidupnya.
Tentang khairun Nisa`, Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam bersabda:
“Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu” Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282
Al imam As Sindi dalam menjelaskan hadits ini mengatakan: pengertian “bila dipandang engkau kagum” ini adalah di dalam akhlaqnya (selalu senyum, malayani suaminya dengan kata-kata yang indah dan sebagainya), bentuk tubuhnya (menjaga bentuk tubuh seperti yang disenangi suaminya, bersolek dan sebagainya) dan pakaiannya (berpakaian dengan yang paling disenangi suaminya agar suaminya jangan memandang perempuan-perempuan seksi yang lainnya yang haram baginya dan sebagainya).”
Diantara hikmah Allah adalah menciptakan kecemburuan di balik cinta. Kadang-kadang suami istri tidak menyadari bahwa keduanya telah dijalin cinta dan rasa saling membutuhkan. Dan setelah suaminya meninggal dunia atau menikah lagi, baru ia sadari bahwa ternyata diantara keduanya telah terjalin cinta, sehingga munculah rasa kehilangan, cemburu dan kecewa. Maka ketika ia kecewa suaminya menikah lagi, namun ia menyalurkannya kepada tuntunan sunnah (Islam), yakni mencoba bersabar dan bahkan bersiap-siap bersaing diantara istri-istri suaminya yang lain untuk berlomba-lomba mendapatkan keridhaan suaminya dengan cara memperbaiki akhlaq, bentuk tubuh dan pakaiannya seperti yang diinginkan suaminya, yang tentunya dengan adanya kompetisi seperti ini, upaya para istri mendapatkan ridho suami akan lebih seru karena ada saingannya dan tersalur pada persaingan yang sehat, tentu sikap yang seperti ini menjadikan suaminya akan lebih mencintai istri paling semangat merebut ridha sang suami tersebut. Sikap sabar dan semangat inilah yang akan mengangkat derajat wanita tersebut kepada derajat khairun Nisa` sebagaimana yang didefinisikan oleh Al Imam As Sinndi diatas. Adapun bila istri yang pertama itu meyalurkan kekecewaannya kepada hawa nafsu, maka rumah tangga itupun akan rusak dan iapun akan melakukan tindakan-tindakan yang haram yang melanggar sunnah Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam, bahkan akan digiring oleh syaithan untuk benci kepada sunnah Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam tersebut. Dan ketika seseorang membenci salah satu sunnah Rasulullah shalallahu `Alayhi Wasallam yang berarti juga membenci salah satu syari`at Islam, maka ia terancam batal keislamannya dan ini tentu sebuah malapetaka yang amat besar. Na`udzubillah Min Dzaalik.
Beberapa Subhat (Kerancuan)
Ada banyak syubhat (kerancuan pemahaman) yang dilontarkan seputar masalah ini. Diantaranya adalah pertanyaan:”memang poligami itu sunnah, tapi mengapa hanya itu saja yang dipikirkan, bukankah masih banyak sunnah-sunnah yang lainnya? Maka jawabannya adalah sabda Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam: ”
…Dan hati-hatilah engkau dari urusan keumuman masyarakat. Karena hidup di tengah-tengah mereka itu adalah Ayyamush Shabr (hari-hari kesabaran). Orang yang berhasil sabar di kalangan mereka dalam terus menempuh kebenaran, adalah seperti orang yang sedang memegang bara api. Dan orang yang terus beramal (dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah) di tengah masyarakat demikian, adalah seperti orang yang mendapat pahala lima puluh kali lipat dari amalan kalian (yakni para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam ).” (HR. Abu Dawud dalam Sunan nya hadits ke 4341, dan Tirmidzi dalam Sunan nya hadits ke 3058, dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani).
Hadits diatas menerangkan kepada kita tentang akan tibanya masa keterasingan Islam. Dan masa-masa itu diistilahkan oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam dengan ayyamush shabr. Dan pada saat itu, menghidupkan sunnah yang telah mati yakni yang telah ditinggalkan orang, merupakan amalan yang agung, karena demikian asingnya suatu sunnah tersebut serta demikian sulitnya mengamalkan sunnah tersebut sehingga Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam menggambarkan orang yang beramal dengan sunnah itu ibarat sedang menggenggam bara api karena saking berat dan sulitnya mengamalkannya. Sehingga semakin sunnah itu ditinggalkan orang, atau bahkan sampai pada tingkat dipandang negatif, maka semakin tinggi nilai dan pahala amalan tersebut, sampai digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam setara dengan nilai pahala amalan 50 orang shahabat, dan termasuk ke dalam Assunnah al Mahjurah (sunnah yang ditinggalkan) ini ialah poligami (ta`addud). Tentu mengamalkan amalan ini lebih tinggi nilainya daripada shalat malam dan amalan-amalan sunnah lainnya. Sementara itu, Hidup, waktu dan kemampuan kita serba terbatas, sehingga kita perlu mengamalkan amalan yang sedikit tapi nilai pahalanya berlipat-lipat ganda di sisi Allah Ta`ala, diantaranya adalah amalan poligami ini. Selain itu Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam juga pernah bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu beserta besarnya malapetaka. (HSR. At-Tirmidzi , Ibnu Majah dan lain-lainnya dari Anas bin Malik radliyallahu `anhu. Maka dalam hal ini para pria yang ingin berpologami harus siap dan sabar dalam menghadapi kebodohan dan kemarahan perempuan yang sangat mungkin muncul sebagai konsekwensi ketika mengamalkan sunnah ini, dan berdoa kepada Allah agar istrinya sadar dengan kenyataan bahwa laki-laki memang berbeda dengan perempuan. Allah berfirman di dalam surat Al baqarah 228:
“Dan bagi laki-laki (suami), mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.”
Demikianlan sesungguhnya syari`at poligami ini pada saat-saat ini seakan-akan menjadi ujian yang sangat berat terhadap kekuatan iman seorang mukmin khususnya mukminah, dimana di dalam menghadapi ujian ini ada yang sukses yakni mereka yang mampu menyalurkan kekecewaannya kepada sunnah (tuntunan Islam), dan ada pula yang gagal yakni mereka yang menyalurkan kekecewaannya terhadap poligami ini kepada hawa nafsu syaithaniyyah yang akhirnya berujung kepada kebencian kepada sunnah Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam ini atau bahkan kekufuran dan batalnya keislamannya dengan sebab mengingkari adanya syari`at poligami ini. Na`udzubillahi Min dzalik, hanya mereka yang dirahmati Allah-lah yang akan dimudahkan melalui ujian ini dengan sukses. Wallahu A`lamu Bish Shawaab.

Ditulis dalam Manhaj. 17 Komentar »

17 Tanggapan ke “Bahaya Menentang Poligami”

  1. ovide Says:

    kadang memang manusia melihat sesuatu yang halal akan tetapi bertentangan dengan hawa nafsunya ia akan cenderung meninggalkannya,menganggap orang yang melakukan perbuatan itu salah.
    wallahua’lam…

  2. Adam Setia P Says:

    Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui…

    Al-Quran diturunkan adalah bagi kemaslahatan umat Manusia dan kasih sayang Allah, jadi tidak mungkin ada yang buruk di dalamnya…
    Poligami itu diperuntukan bagi orang yang mampu, namun bkn saja dalam arti menafkahi secara lahiriah atau batiniah, tapi mendidik keikhlasan, keadilan dan Islam hakiki karna seorang laki2 menikahi seorang wanita itu bertanggung jawab membimbing agamanya sampai baik matinya…
    Secara logis tujuan poligami adalah mengurangi resiko perceraian, menyeimbangi jumlah wanita yang lebih banyak agar setiap wanita bisa mendapat haknya untuk menikah dan agar tidak sampai terjadi maksiat karena ketidakseimbangan jumlahnya, menyebarkan agama, memberikan keturunan yang baik dan banyak bagi kemaslahatan umat agar mengajarkan Islam, memperluas rizki bagi yang berakal, mengurangi beban kepada istri, dan melemahkan kaum kafir dgn banyaknya keturunan dan generasi…

    (Rasulullah pernah bersabda :
    Di antara tanda-tanda kiamat, yaitu berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan, tampak zina dan wanita menjadi banyak, sedangkan lelaki menjadi sedikit, hingga seorang lelaki berbandin dengan lima puluh wanita, [Mutafaqun ‘alaihi]. )

    Namun ada 3 syarat laki-laki boleh poligami :
    1. Mampan “Ilmu dan Akhlaknya”
    2. Mampu menafkahi lahir dan batin
    3. Menikahi demi kebaikan

    Letak permasalahan poligami adalah pada orang2 yang mengaku Islam itu sendiri karena mereka memahami Al-Quran hanya berdasarkan sangkaan dan hawa nafsu mereka, laknatullah bagi para Ulama yang sesat dan menyesatkan umat yang sekarang begitu banyak di negeri ini…
    Makna-makna di dalam Al-Quran itu ada 2 : yang rahasa (tersembunyi) dan yang terbuka. Namun semuanya tetap hanya bisa dipahami dengan AKAL dan HATI.
    Memahami isi Al-Quran yang rahasia itu adalah hanya dengan Ma’rifatullah…
    Jika isi dari Al-Quran yang rahasia itu terjawab, tentu segala sesuatu yang ditetapkan akan sangat dapat dimengerti…
    Masalahnya yang paling berat diantara para Ulama2 palsu adalah tidak memiliki ilmu ma’rifatullah, sehingga ilmu syariat saja dianggap sudah cukup, parahnya masyarakat itu beriman secara taklid kepada mereka…
    Maka bagi siapapun mumin adalah wajib beriman secara Syariat, Hakikat dan Ma’rifatullah, supaya tidak sesat…
    Kenyataan yang mendasar yang paling buruk bahkan sangat banyaknya orang Islam yang tidak mengenal Tuhannya sendiri, makanya shalat tapi maksiat, bahkan surga dan neraka diartikan dengan khayalan tanpa akal, padahal semuanya yang di sabdakan Rasulullah adalah penuh dgn rahasia yng harus kita cari dengan akal…
    Bagi orang yang mengharapkan Surga di akhirat nanti poligami adalah ladang baginya untuk melepaskan diri dari keterikatan duniawi yang menjadi hijab surga nanti.
    Surga itu pintunya adalah Ikhlas dan jalannya adalah berserah diri pada Allah, jd barang siapa yang tidak bisa melepaskan kecintaannya pada duniawi DIJAMIN tidak masuk surga, walaupun amalnya 1 gunung emas…

  3. ariel Says:

    begini apakah kalian paham tentang definisi cinta sejati dan kesetiaan ??

    pada dasarnya cara pandang kalian menjauhkan kita dari rasa tanggung jawab kepada sumpah setia istri pertama

    lagi pula hanya wanita dungu yang rela di madu

    contohnya para wanita islam

    one male on female

  4. ariel Says:

    muhamad bukanlah nabi

    dia seorang hyper sex sejati

    dia menajdikan islam sebagai alat propaganda

    di mana setiap kepentingan individunya

    di tampilkan atas nama agama

    itulah sebabnya argumenya seolah tidak ada yg berani membantah

    karna dia berlindung di balik topeng bernama agama

    silakan protes jika ada argument balasan yg bisa diterima akal sehat dan rasional

    • JAYA Says:

      tai kucing lho……………

    • jchouhenk Says:

      @Ariel:
      Hey Babi ! dasar setan berwujud manusia ente jangan ngomong seenaknya bung !, kalo ente pengen selamat !, Jangan dikira ngomong seenaknya ga bakalan ada balasan berupa Azab Alloh SWT. Pa lagi sudah menghina Nabi Besar Muhammad SAW. Allah saja memujinya, kamu babi najis kok nyablak bau comberan !
      Tunggu aza mulutmu bakalan membesar, lidahmu bakalan menjulur, otak & seluruh tubuhmu ga bakalan bergerak disebut mati kagak disebut hidup jg kagak kayak si Ariel Sharon !

  5. sirbram Says:

    Cinta tertinggi bagi seorang muslim adalah cinta kepada Allah dan rasulNya. Kemudian cinta tersebutlah yg mendasari dan menjadi sebab cinta kepada yg lainnya spt kpd orang tua, keluarga dan seterusnya. Karena cinta kepada Allah dan rasulNya-lah kami dituntunkan utk mencintai sesama muslim bahkan kami diperintahkan utk bersopan santun dan berbuat baik kpd org2 yg non muslim yg mau hidup berdampingan dan tidak menampakkan permusuhan dg Islam. Meskipun hati kami “teriris” ketika mendapati org2 non muslim telah menyekutukan Allah dalam peribadatannya, namun kami tepap harus berbuat baik dan berlaku adil kpd mereka. itulah Indahnya dan toleransnya Islam

    Wanita Islam yg bersedia dimadu bukanlah wanita dungu, bahkan mereka adalah khairun Nisaa` (sebaik2 wanita) dan wanita yg shalihah dalam pandangan Allah dan kaum mukminin. Karena definisi dungu menurut Islam adalah mereka yg telah diberikan oleh Allah akal, pendengaran, penglihatan namun ia tidak mau menggunakan fasilitas2 tsb utk memahami dan mengamalkan ayat2 dan perintah serta larangan Allah, sebagaimana yg Allah Istilahkan kedunguan orang2 semacam ini didalam Al Qur`an dg istilah “seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat/rendah lagi derajatnya (dr binatang ternak)”. Adapun penilaian miring org2 thd poligami ini, maka hal itu sangat kami maklumi karena ketidakmengertian mrk thd perkara agama ini.

    Adapun tentang Hinaan anda kpd Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi Wasallam, maka saya peringatkan berhentilah melakukan hal tsb. krn kami punya prinsip dalam beragama yakni tidak akan mencari2 musuh, namun bila yg berani menantang-nantang maka kami pantang mundur kebelakang dan kami rela bertaruh nyawa utk membela kehormatan Allah dan nabi muhammad Shalallahu `alayhi wasallam. Kami menghormati kalian dimana Allah didalam Al qur`an melarang kami menghina agama dan tuhan kalian dihadapan kalian, maka jangan kalian tunjukkan akhlak jelek kalian yg berbahaya itu.
    Nabi MUhammad bukan seorang yg hypersex (astaghfirullah), beliau Shalallahu `alayhi wasallam adalah laki2 normal spt keumuman laki2. hanya saja Allah sangat memahami dan menyayangi hambanya, shg memberikan peluang utk menikahhi 4 wanita guna menyalurkan hasrat sexual yg diakui ataupun tidak pasti dialami oleh laki2 yg normal. shg dg itu Allah mengharamkan selingkuh dan menghalalkan poligami adalah sebuah rahmat dan kasih sayang Allah kpd hambanya. betapa banyak orang yg katanya setia kpd satu istri “one man on female” namun secara tidak jantan ia berselingkuh dg WIL (wanita idaman lain) atau yg sejenisnya. hal yg spt ini merupakan kehinaan dlm islam. karena memang pria yg normal ditaqdirkan oleh Allah membutuhkan lebih dr satu istri, shg bila kebutuhan itu dihambat2 atau disalurkan pada jalur yg tidak benar, maka akan merusak org tsb.
    Maka sekali lagi berhentikah menghina nabi Muhammad Shalallahu `alayhi Wasalllam bila tidak ingin merasakan buah pahit dari perbuatan anda tsb.Jika anda memang intelek, marilah berdialog secara ilmiyah ttg kekokohan agama kita shg tampak bagi kita siapa yg berada diatas kebenaran dan siapa yg sedang di dalam kesesatan.

  6. Bukan Ariel Says:

    aneh nih blog owner. mosok komentar kayak si ariel gitu kok di approve. jelas bukan komentar yang sehat dan menghina Rasulullah. jangan-jangan blog owner sendiri kawannya si ariel itu. atau malah ariel sendiri yang punya blog. selektif dong, wahai blog owner.

  7. abu thalib markaz taliban Says:

    Alhamdulillah, si bram mau poligami. sukses dah

  8. ivan_fals Says:

    Ane mo nyari istri ke dua nich, tapi susah banget ya yang mau untuk dijadikan istri ke 2, bisa minta tolong gak wahai kawan-kawanku.Kalo ada plz kirim bio data nya ke email ane di ivan_fals@yahoo.com

  9. Elly Latifah Says:

    Bismillah…
    komentar yang asbun jangan dianggap, kalau asal jangan usul, kalau usul jangan asal.. apalagi menghina Rasulullah shalallahualaihi wassalam. saya wanita yang posessive, suamiku tahu itu dan enjoy aja, tapi kalau Allah mentaqdirkan suami nikah lagi InsyaAllah saya akan beriman kepada taqdirnya dan akan tetap setia dan taat pada suami walaupun berat namun pahala Allah amat luas dan saya yakin dengan hal itu, jika saya sedih, hiburanku hanya dengan berdzikir pada Allah dan saya yakin Allah akan menghilangkan rasa sedihku, jika saya cemburu Insya Allah itu karena saya cinta pada suami.. yang pasti saya akan selalu mengingat kematian bahwa saya aakan bertemu dengan Allah Taala.. itulah hiburanku…… Ya Allah yang membolak balikkan hati tetapkanlah hatiku dalam Agama-Mu Amiin…….

  10. decroly Says:

    Maaf yang menamakan dirinya Aril,Bukan Ariel ataupun tetek bengeknya, sebaiknya anda jangan asal-asalan dalam menyimpulkan sesuatu. Insyaallah saya kenal baik dengan pemilik blog ini. Jadilah pengisi blog dengan bahasa-bahasa yang santun dan jangan asal2an dalam berkomentar. Mungkin kalau belum tau/ belum kenal ya kenalan dulu lah. Kalau memang gentleman ya ketemuan langsung saja ndak usah neko-neko. Saya siap ko’ klo memang anda sekalian bertanggung jawab. terimakasih

  11. nisa Says:

    maha suci ALLAH dari segala kotoran dunia…
    tentang poligami ,saya beriman kepada ALLAH, andai suatu saat sy berumah tangga dan suami sy hendak mempoligami sy,klo itu emang kehendak ALLAH sy ikhlas,asalkan didalam berpoligami emang benar2 di niatkan ibadah pada ALLAH bukan karna untuk memuaskan nafsu atau ingin mencoba rasa dari wanita 1 ke wanita yg berikutnya[klo niat yg kedua ini tujuan suami mempoligami ,saya seorang wanita merasa terhina dan teraniaya] jika istri sudah merasa teraniaya trus bagaimana menghadapi istri yg berikutnya……..,bolehlah bagi kaum adam beristri sampe 4,aslkan harus bisa menaklukan istri2 yg sudah ada, menaklukan dlm arti benar2 tlah memberikan arahan dan bimbingan akhlak yg mulia[akhlak istri yg sholihah] andai mendidik yg sudah ada juga belum jos,buat apa cari berikutnya…….?itu sudah bukan lagi disebut untuk menunaikan sunatulloh dan untuk ibadah pada ALLAH SWT ,[karena nafsu belaka]. padahal cinta kepada ALLAH melebihi cinta pada apapun yg ada[fana] karena kaum hawa adalah termasuk hiasan dunia,[maka hati hatilah ] alangkah baiknya ajaklah kami menuju cinta ALLAH YG HAKIKI,dunia terlalu banyak dg tipuan penilaian[fatamorgana].waspadalah wahai kaum adam ……..dunia itu sangat manis menggiurkan ,[jadilah kekasih ALLAH bukan kekasih kaum hawa yg didlm hati hawa terselip beberapa prasangka yg pasti hanya ALLAH yg maha tau......
    [saya beriman kepada ALLAH dan ROSULLULLOH ] tentang poligmi sy beriman itu datangnya dari ALLAH ,”AMIN…….

    wallohu a’lambissowab

  12. YARHAN Says:

    Orang yang berpoligami itu adalah orang yang pemberani menanggung resiko karena perintah Allah di akhir ayat “jika kalian takut tidak dapat berbuat adil maka cukup satu saja, jika alasan cuma penasaran rasa istri kedua ketiga dan keempat itu karena memang orangnya yang ganjen. Nabi adam a.s cukup 1 saja siti hawa karena tulang rusuk sebelah kiri cuma 1 yang diambil.

    • sirbram Says:

      Ya. manusia tidak sama yaa akhi. ada yang ganjen namun ada yang memang kebutuhan biologis. Karena memang lelaki itu Allah ciptakan terkadang tidak cukup dg satu istri, sebaliknya istri Allah ciptakan memang mencukupkan diri dg satu suami. Ini sunnatullah. Dan poligami itu bukan hanya sebagai amalan sunnah, namun juga sebagai sarana menikmati kehidupan seksual yang halal dan resmi.

  13. ronym Says:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.
    Dunia memang sudah terbolak-balik…
    (Jika menurut Sabda Rasulullah, saat islam muncul dianggap sesuatu yang asing, kemudian menjadi umum dan akhirnya akan menjadi asing lagi).
    Dan di akhir zaman memegang islam seperti memegang bara api. Dilepas, hilanglah keimanan kita.
    Digenggam, semakin terbakar (dihina, dicampakkan, diasingkan bahkan diperangi). Seakan-akan di dunia ini kebenaran tidak ada bedanya dengan kesalahan. Keadilan tidak ada bedanya dengan korupsi, penipuan dan pemerasan.
    Begitupula selingkuh…dianggap biasa, manusiawi dan pelakunya dimaafkan atas dasar manusia bisa lupa dan salah. Namun tetap diulanginya lagi…karena toh pasti dimaafkan untuk yang ke 2,3,4, dst.
    Zina…di SAH kan dengan cara dilokalisasi (diberikan izin praktek ).
    Dan pelajar yang hamil diluar nikah dianggap biasa…
    Menikah…diperlama dengan alasan kuliah, belum punya penghasilan cukup, belum punya rumah, pekerjaan mapan…
    Naudzubillahi mindzalik…
    Memang benar Rasulullah…hidup di zaman ini sulit membedakan yang benar (ibarat mencari jarum ditumpukan jerami), bersabar dengan segala ujian dunia dan bertawakkal mengharap surga yang Allah janjikan…namun tentu dengan pengorbanan…
    Tidak ada yang GRATIS…
    There is always a cost…
    ada harga yang musti kita bayar…
    Walaupun hanya berupa…
    keikhlasan dan kesabaran.
    Wassalam.


Tinggalkan Balasan