Bahaya Menentang Poligami

Syari`at Islam adalah perkara yang harus menjadi keyakinan mutlak bagi seorang muslim. Mengingkari sebagian atau bahkan keseluruhan dari syari`at Islam, mengakibatkan pelakunya terancam kufur dan batal keislamannya. Ini harus kita fahami dan menjadi dasar pandang kita dalam memahami segala permasalahan di dalam agama ini. Dan termasuk ketika kita berbicara tentang poligami, maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang salah satu bagian dari syari`at Islam, sebab poligami diakui ataupun tidak adalah termasuk perkara yang diatur di dalam Islam. 
Polemik Seputar Hukum Poligami
Allah Ta`ala berfirman di dalam surat An Nisaa` (3):
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”
Para ulama diantaranya Asy Syaikh Ibn Baaz Rahimahullah menjelaskan bahwa ayat diatas menunjukkan bahwa hukum asal pernikahan bagi laki-laki adalah poligami bagi laki-laki yang mampu dan tidak ada kekhawatiran untuk tidak terjerumus kedalam kedzhaliman. Sebab di dalam ayat tersebut disebutkan perintah menikah itu dengan perintah menikahi “dua, tiga atau empat” wanita. Ini adalah kondisi normal pada laki-laki. Adapun bila laki-laki itu berada di dalam kondisi abnormal (tidak normal) yakni khawatir tidak bisa berbuat adil (adil dalam hal yang mampu yakni giliran menginap dan nafkah, adapun dalam hal cinta dan kehangatan, maka tidak dituntut untuk berlaku adil karena khusus untuk masalah hati, Allah-lah yang membolak-balikkan dan mengaturnya, bahkan Rasulullah shalallahu `Alayhi Wasallam sendiri mengatakan bahwa beliau lebih cenderung kepada `Aisyah daripada istri beliau yang lainnya) kepada istri-istrinya, maka dilarang menikah lebih dari satu, sebab bila laki-laki abnormal bertindak sebagai pria normal, yakni menikah lebih dari satu, maka akan menimbulkan kerusakan yakni ia akan terjatuh kedalam perbuatan dzhalim. Maka sesungguhnya Allah menciptakan bagi laki-laki itu membutuhkan lebih dari satu istri dan Allah menciptakan wanita itu mencukupkan diri dengan satu suami. Demikianlah ketentuan dari Allah Ta`ala kepada masing-masing pria dan wanita dan kita dituntut bersabar di dalam menjalani ketentuan tersebut. Bahkan di dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam mengancam orang yang tidak menyukai perihidup Nabi Shalallahu `Alayhi Wasallam ini:
“Mengapakah orang-orang ada satu di antaranya mengatakan, “Adapun saya akan selalu berpuasa tidak akan berbuka,” dan ada lainnya mengatakan, “Adapun saya akan selalu bangun malam tidak akan tidur,” dan orang lainnya berkata, “Saya tidak akan menikahi wanita,” dan yang lainnya mengatakan, “Saya tidak akan makan daging.” Tetapi saya sendiri (Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam) berpuasa dan berbuka, bangun malam dan tidur, menikahi para wanita, makan daging, maka barangsiapa yang benci terhadap sunnahku (perihidupku ini), maka bukanlah ia termasuk golonganku.” H.R. Bukhari dan Muslim di dalam Shahih keduanya.
Pemahaman dan Pengamalan Para Shahabat Nabi
Allah dan RasulNya mengajak kita menafsirkan agama Islam dengan penafsiran yang baku dan standar yakni pemahaman para shahabat nabi Shalallahu `Alalayhi Wasallam, sebab para shahabat nabi adalah orang yang paling faham tentang agama ini dibandingkan dengan generasi sesudahnya dan mustahil agama ini sampai kepada kita kecuali melalui para shahabat nabi. Dalam hal ini Al Imam Al Bukhary meriwayatkan di dalam Shahihnya bahwa ketika Ibnu Abbaas mendapati Sa`ied Bin Jubair, Ibnu Abbaas mengatakan kepada Sa`ied Bin Jubair seorang tabi`in:”apakah kamu sudah nikah?” kata Sa`id:”belum” Ibnu Abbas:”menikahlah, karena sesungguhnya orang yang terbaik di ummat ini ialah yang paling banyak istrinya”. Kemudian Ibnu hajar Al `Atsqalaany mengomentari riwayat ini:”coba kita lihat, orang-orang terbaik dari ummat ini, Rasulullah Shalallahu `layhi Wasallam adalah orang yang paling banyak istrinya diantara kita, kemudian Abu Bakar Ash Shiddiiq adalah orang yang paling banyak istrinya setelah Rasulullah Shalallahu `Alalyhi Wasallam, kemudian setelah itu Umar Ibnul Khaththaab, kemudian Utsman Ibn Affaan, kemudian `Ali Ibn Abi Thaalib sepeninggal Fathimah Bintu Rasulillah Shalallahu `Alalyhi Wasallam.” Ini adalah pemahaman dan pengamalan para sahabat nabi tentang keutamaan berpoligami. Maka sangat lucu kalau ada orang yang mengatakan bahwa poligami itu haram atau tidak disyari`atkan sementara orang-orang terbaik dalam ummat ini (Islam) yakni Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam dan para shahabatnya melakukannya.
Poligami, Sunnah yang Ditinggalkan
Setelah kita memahami bahwa poligami merupakan sunnah (prilaku hidup) orang-orang terbaik di muka bumi ini yakni Nabi Shalallahu `Alayhi Wasallam dan para shahabatnya, maka bila kita melihat kepada kenyataan sekarang, kita akan dapati bahwa poligami itu merupakan sunnah yang telah ditinggalkan (assunnah al mahjuurah). Sedemikian asingnya amalan ini, hingga sampai pada tingkat mayoritas orang menilai jelek orang yang melakukannya (berpoligami) dan mengejek mereka dengan sebutan nafsu besar, kedzhaliman, selingkuh dan ucapan-ucapan yang jelek lainnya.
Manfaat Poligami
Manfaat poligami sesungguhnya bukan hanya dapat dirasakan bagi laki-laki, namun juga bagi wanita.
Bagi Laki-laki
Berpoligami dengan tujuan menyalurkan syahwat, ini lebih utama lagi. Karena didasari kekhawatiran akan terjatuh kepada yang haram. Jejaka yang normal pasti memiliki rasa penasaran kepada perempuan, biasanya standarnya masih rendah, yakni asal wanita. Begitu dia menikah, maka rasa penasaran kepada perempuan itupun tertunaikan dan akhirnya dengan menikah itu dapat menahan pandangannya dari yang haram. Namun terkadang rasa penasaran itu masih tetap muncul lagi. Sehingga kadang muncul pertanyaan di dalam dirinya, apakah perempuan lain berbeda rasanya dengan yang ia miliki?, maka ketika penasaran itu muncul, ia diberi peluang oleh Islam untuk menikahi istri ke-2. Setelah menikah untuk ke-dua kalinya, rasa penasaran itupun tertunaikan dan ternyata ia merasakan perempuan itu kurang lebih rasanya sama. Sehingga dengan pengalaman yang demikian itu menjadikan ia lebih kuat kemampuannya untuk menundukkan pandangan dari yang haram. Bila rasa penasaran dan syahwat kepada perempuan itu ternyata masih demikian deras mengalir di dalam dirinya, maka ia masih diberi kesempatan untuk istri ke-3 dan terakhir yang ke-4. Maka seseorang yang berpoligami akan memiliki benteng berlapis yang kokoh yang akan melindungi dia dari dahsyatnya salah satu fitnah terbesar di dunia ini yakni fitnah syahwat.
Bagi Wanita
Suatu hal yang manusiawi dan tidak bisa dipungkiri, bahwa ketika dimadu, seorang wanita pasti merasakan kecewa, keberatan dan sakit hati. Hal ini tidak jauh berbeda dengan laki-laki, tatkala Allah ta`ala mewajibkan kaum laki-laki untuk qital (jihad dalam bentuk perang/membunuh), maka kaum laki-lakipun sebenarnya tidak senang bahkan membenci amalan tersebut. Isi hati kaum laki-laki ini dibongkar dan diakui sendiri oleh Allah Ta`ala didalam surat Al Baqarah 216:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Namun demikian itulah syari`at Allah. Dimana kita dituntut untuk menundukkan segala bentuk hawa nafsu, suka dan tidak suka, serta kepuasan dan kekecewaan kita itu untuk dikontrol oleh syari`at Allah. Hal itu konsekwensi logis terhadap pengakuan keimanan kita kepada Allah Ta`ala. Makanya Allah Ta`ala menegaskan bahwa belum tentu sesuatu yang kita benci itu jelek bagi kita dan sebaliknya belum tentu yang kita sukai itu baik bagi kita, sebab hanya Allah-lah satu-satunya pihak yang paling mengetahui baik buruknya sesuatu bagi hambanya.
Dalam hal ini ujian semacam itu dialami oleh kaum wanita dalam bentuk syari`at poligami. Dimana perasaan dan naluri wanita tidak menyukai amalan tersebut. Namun justru disinilah letak ujian bagi keimanan seorang wanita mukmin. Kekecewaan wanita kepada suaminya yang memadunya bila disalurkan kepada sunnah, yakni menyikapinya dengan ikhlash dan sabar menghadapai ketentuan Allah atas dirinya itu, maka akan meningkatkan derajatnya menjadi khairun nisa` (wanita shalihah), akan tetapi bila kekecewaan itu disalurkan kepada hawa nafsu syaithaniyyah yakni lepas dari kontrol agama dalam meluapkan kekecewaan tersebut dan semata-mata mengikuti naluri kewanitaannya, maka sikap tersebut akan menghancurkan hidupnya dan akan menyebabkan perceraian serta malapetaka dalam hidupnya.
Tentang khairun Nisa`, Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam bersabda:
“Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu” Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282
Al imam As Sindi dalam menjelaskan hadits ini mengatakan: pengertian “bila dipandang engkau kagum” ini adalah di dalam akhlaqnya (selalu senyum, malayani suaminya dengan kata-kata yang indah dan sebagainya), bentuk tubuhnya (menjaga bentuk tubuh seperti yang disenangi suaminya, bersolek dan sebagainya) dan pakaiannya (berpakaian dengan yang paling disenangi suaminya agar suaminya jangan memandang perempuan-perempuan seksi yang lainnya yang haram baginya dan sebagainya).”
Diantara hikmah Allah adalah menciptakan kecemburuan di balik cinta. Kadang-kadang suami istri tidak menyadari bahwa keduanya telah dijalin cinta dan rasa saling membutuhkan. Dan setelah suaminya meninggal dunia atau menikah lagi, baru ia sadari bahwa ternyata diantara keduanya telah terjalin cinta, sehingga munculah rasa kehilangan, cemburu dan kecewa. Maka ketika ia kecewa suaminya menikah lagi, namun ia menyalurkannya kepada tuntunan sunnah (Islam), yakni mencoba bersabar dan bahkan bersiap-siap bersaing diantara istri-istri suaminya yang lain untuk berlomba-lomba mendapatkan keridhaan suaminya dengan cara memperbaiki akhlaq, bentuk tubuh dan pakaiannya seperti yang diinginkan suaminya, yang tentunya dengan adanya kompetisi seperti ini, upaya para istri mendapatkan ridho suami akan lebih seru karena ada saingannya dan tersalur pada persaingan yang sehat, tentu sikap yang seperti ini menjadikan suaminya akan lebih mencintai istri paling semangat merebut ridha sang suami tersebut. Sikap sabar dan semangat inilah yang akan mengangkat derajat wanita tersebut kepada derajat khairun Nisa` sebagaimana yang didefinisikan oleh Al Imam As Sinndi diatas. Adapun bila istri yang pertama itu meyalurkan kekecewaannya kepada hawa nafsu, maka rumah tangga itupun akan rusak dan iapun akan melakukan tindakan-tindakan yang haram yang melanggar sunnah Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam, bahkan akan digiring oleh syaithan untuk benci kepada sunnah Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam tersebut. Dan ketika seseorang membenci salah satu sunnah Rasulullah shalallahu `Alayhi Wasallam yang berarti juga membenci salah satu syari`at Islam, maka ia terancam batal keislamannya dan ini tentu sebuah malapetaka yang amat besar. Na`udzubillah Min Dzaalik.
Beberapa Subhat (Kerancuan)
Ada banyak syubhat (kerancuan pemahaman) yang dilontarkan seputar masalah ini. Diantaranya adalah pertanyaan:”memang poligami itu sunnah, tapi mengapa hanya itu saja yang dipikirkan, bukankah masih banyak sunnah-sunnah yang lainnya? Maka jawabannya adalah sabda Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam: ”
…Dan hati-hatilah engkau dari urusan keumuman masyarakat. Karena hidup di tengah-tengah mereka itu adalah Ayyamush Shabr (hari-hari kesabaran). Orang yang berhasil sabar di kalangan mereka dalam terus menempuh kebenaran, adalah seperti orang yang sedang memegang bara api. Dan orang yang terus beramal (dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah) di tengah masyarakat demikian, adalah seperti orang yang mendapat pahala lima puluh kali lipat dari amalan kalian (yakni para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam ).” (HR. Abu Dawud dalam Sunan nya hadits ke 4341, dan Tirmidzi dalam Sunan nya hadits ke 3058, dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani).
Hadits diatas menerangkan kepada kita tentang akan tibanya masa keterasingan Islam. Dan masa-masa itu diistilahkan oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam dengan ayyamush shabr. Dan pada saat itu, menghidupkan sunnah yang telah mati yakni yang telah ditinggalkan orang, merupakan amalan yang agung, karena demikian asingnya suatu sunnah tersebut serta demikian sulitnya mengamalkan sunnah tersebut sehingga Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam menggambarkan orang yang beramal dengan sunnah itu ibarat sedang menggenggam bara api karena saking berat dan sulitnya mengamalkannya. Sehingga semakin sunnah itu ditinggalkan orang, atau bahkan sampai pada tingkat dipandang negatif, maka semakin tinggi nilai dan pahala amalan tersebut, sampai digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam setara dengan nilai pahala amalan 50 orang shahabat, dan termasuk ke dalam Assunnah al Mahjurah (sunnah yang ditinggalkan) ini ialah poligami (ta`addud). Tentu mengamalkan amalan ini lebih tinggi nilainya daripada shalat malam dan amalan-amalan sunnah lainnya. Sementara itu, Hidup, waktu dan kemampuan kita serba terbatas, sehingga kita perlu mengamalkan amalan yang sedikit tapi nilai pahalanya berlipat-lipat ganda di sisi Allah Ta`ala, diantaranya adalah amalan poligami ini. Selain itu Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam juga pernah bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu beserta besarnya malapetaka. (HSR. At-Tirmidzi , Ibnu Majah dan lain-lainnya dari Anas bin Malik radliyallahu `anhu. Maka dalam hal ini para pria yang ingin berpologami harus siap dan sabar dalam menghadapi kebodohan dan kemarahan perempuan yang sangat mungkin muncul sebagai konsekwensi ketika mengamalkan sunnah ini, dan berdoa kepada Allah agar istrinya sadar dengan kenyataan bahwa laki-laki memang berbeda dengan perempuan. Allah berfirman di dalam surat Al baqarah 228:
“Dan bagi laki-laki (suami), mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.”
Demikianlan sesungguhnya syari`at poligami ini pada saat-saat ini seakan-akan menjadi ujian yang sangat berat terhadap kekuatan iman seorang mukmin khususnya mukminah, dimana di dalam menghadapi ujian ini ada yang sukses yakni mereka yang mampu menyalurkan kekecewaannya kepada sunnah (tuntunan Islam), dan ada pula yang gagal yakni mereka yang menyalurkan kekecewaannya terhadap poligami ini kepada hawa nafsu syaithaniyyah yang akhirnya berujung kepada kebencian kepada sunnah Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam ini atau bahkan kekufuran dan batalnya keislamannya dengan sebab mengingkari adanya syari`at poligami ini. Na`udzubillahi Min dzalik, hanya mereka yang dirahmati Allah-lah yang akan dimudahkan melalui ujian ini dengan sukses. Wallahu A`lamu Bish Shawaab.

About these ads
Ditulis dalam Manhaj. 54 Comments »

54 Tanggapan to “Bahaya Menentang Poligami”

  1. ovide Says:

    kadang memang manusia melihat sesuatu yang halal akan tetapi bertentangan dengan hawa nafsunya ia akan cenderung meninggalkannya,menganggap orang yang melakukan perbuatan itu salah.
    wallahua’lam…

  2. Adam Setia P Says:

    Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui…

    Al-Quran diturunkan adalah bagi kemaslahatan umat Manusia dan kasih sayang Allah, jadi tidak mungkin ada yang buruk di dalamnya…
    Poligami itu diperuntukan bagi orang yang mampu, namun bkn saja dalam arti menafkahi secara lahiriah atau batiniah, tapi mendidik keikhlasan, keadilan dan Islam hakiki karna seorang laki2 menikahi seorang wanita itu bertanggung jawab membimbing agamanya sampai baik matinya…
    Secara logis tujuan poligami adalah mengurangi resiko perceraian, menyeimbangi jumlah wanita yang lebih banyak agar setiap wanita bisa mendapat haknya untuk menikah dan agar tidak sampai terjadi maksiat karena ketidakseimbangan jumlahnya, menyebarkan agama, memberikan keturunan yang baik dan banyak bagi kemaslahatan umat agar mengajarkan Islam, memperluas rizki bagi yang berakal, mengurangi beban kepada istri, dan melemahkan kaum kafir dgn banyaknya keturunan dan generasi…

    (Rasulullah pernah bersabda :
    Di antara tanda-tanda kiamat, yaitu berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan, tampak zina dan wanita menjadi banyak, sedangkan lelaki menjadi sedikit, hingga seorang lelaki berbandin dengan lima puluh wanita, [Mutafaqun ‘alaihi]. )

    Namun ada 3 syarat laki-laki boleh poligami :
    1. Mampan “Ilmu dan Akhlaknya”
    2. Mampu menafkahi lahir dan batin
    3. Menikahi demi kebaikan

    Letak permasalahan poligami adalah pada orang2 yang mengaku Islam itu sendiri karena mereka memahami Al-Quran hanya berdasarkan sangkaan dan hawa nafsu mereka, laknatullah bagi para Ulama yang sesat dan menyesatkan umat yang sekarang begitu banyak di negeri ini…
    Makna-makna di dalam Al-Quran itu ada 2 : yang rahasa (tersembunyi) dan yang terbuka. Namun semuanya tetap hanya bisa dipahami dengan AKAL dan HATI.
    Memahami isi Al-Quran yang rahasia itu adalah hanya dengan Ma’rifatullah…
    Jika isi dari Al-Quran yang rahasia itu terjawab, tentu segala sesuatu yang ditetapkan akan sangat dapat dimengerti…
    Masalahnya yang paling berat diantara para Ulama2 palsu adalah tidak memiliki ilmu ma’rifatullah, sehingga ilmu syariat saja dianggap sudah cukup, parahnya masyarakat itu beriman secara taklid kepada mereka…
    Maka bagi siapapun mumin adalah wajib beriman secara Syariat, Hakikat dan Ma’rifatullah, supaya tidak sesat…
    Kenyataan yang mendasar yang paling buruk bahkan sangat banyaknya orang Islam yang tidak mengenal Tuhannya sendiri, makanya shalat tapi maksiat, bahkan surga dan neraka diartikan dengan khayalan tanpa akal, padahal semuanya yang di sabdakan Rasulullah adalah penuh dgn rahasia yng harus kita cari dengan akal…
    Bagi orang yang mengharapkan Surga di akhirat nanti poligami adalah ladang baginya untuk melepaskan diri dari keterikatan duniawi yang menjadi hijab surga nanti.
    Surga itu pintunya adalah Ikhlas dan jalannya adalah berserah diri pada Allah, jd barang siapa yang tidak bisa melepaskan kecintaannya pada duniawi DIJAMIN tidak masuk surga, walaupun amalnya 1 gunung emas…

    • Hamba Allah Says:

      Semoga yg ini bukan ulama palsu.

    • achan Says:

      betul sekali… sy tidak sependapat bahwa poligami adalah sunnah yang ditinggalkan.. cobalah pahami Al Quran dengan perasaan manusia.. jika khawatir tidak adil menikahlah 4,3, atau 2 jika masih khawatir tidak adil juga maka satu saja.. ini berdasarkan fakta bahwa sebelum ayat ini turun orng nikah sebanyak2nya sepuas2nya sehingga nasihat yg halus jika kamu khawatir tidak adil. pdhl bahasa lugasnya kamu pasti tidak adil.. kemudian nikahilah budakmu.. itu mengangkat budak menjadi manusia merdeka.. so, islam mengangkat wanita bukan melegalkan poligami… kalo poligami ya poligamilah jangan bawa islam apalagi sunnah rasul..weleh weleh

      • sirbram Says:

        Memahami Islam tentu dg selera yg punya Islam (Allah ta`ala), bukan dg erasaan kita. Jadi ahamilah Islam menurut Al Qur`an dan Assunnah dg penafsiran para salafus shalih. dan tidak satupun diantara ara salafus shalih tsb yg mengingkari poligami. wallahu a`lam

  3. ariel Says:

    begini apakah kalian paham tentang definisi cinta sejati dan kesetiaan ??

    pada dasarnya cara pandang kalian menjauhkan kita dari rasa tanggung jawab kepada sumpah setia istri pertama

    lagi pula hanya wanita dungu yang rela di madu

    contohnya para wanita islam

    one male on female

  4. ariel Says:

    muhamad bukanlah nabi

    dia seorang hyper sex sejati

    dia menajdikan islam sebagai alat propaganda

    di mana setiap kepentingan individunya

    di tampilkan atas nama agama

    itulah sebabnya argumenya seolah tidak ada yg berani membantah

    karna dia berlindung di balik topeng bernama agama

    silakan protes jika ada argument balasan yg bisa diterima akal sehat dan rasional

    • JAYA Says:

      tai kucing lho……………

    • jchouhenk Says:

      @Ariel:
      Hey Babi ! dasar setan berwujud manusia ente jangan ngomong seenaknya bung !, kalo ente pengen selamat !, Jangan dikira ngomong seenaknya ga bakalan ada balasan berupa Azab Alloh SWT. Pa lagi sudah menghina Nabi Besar Muhammad SAW. Allah saja memujinya, kamu babi najis kok nyablak bau comberan !
      Tunggu aza mulutmu bakalan membesar, lidahmu bakalan menjulur, otak & seluruh tubuhmu ga bakalan bergerak disebut mati kagak disebut hidup jg kagak kayak si Ariel Sharon !

    • SOI Says:

      celakalah kau laknat ariel….. GO TO HELL
      TUNGGU ADZAB DARI ALLOH SWT

      • furqon Says:

        innalillahi.,.,.,.ya rabb turunkan azab untuknya agar mnjdi pelajaran ats sifat n akhlaknya krn dia sdh menghina kekasihmu rasulallah salallahu a’alihi wasalam.,.,

        demi allah seandainya dia didepan q maka akn q tebas lehernya,q belah dadanya ,q hancurkan dagngya berkeping2

        sesat & menyesatkan

    • abudzulfiqor Says:

      innalillahi.,.,.,.ya Allah kumohon azablah dia seberat-beratnya, tempatkan dia di nerakamu yang paling bawah dan paling berat siksaannya,penuhi hidupnya dengan kehinaan dan kesulitan, persempit jalan rezekinya hingga dia merasakan neraka di dunia dan neraka diakhirat, karena dia telah menghina nabi Muhammad kekasih-Mu ya Allah, amin ya robbal alamin

  5. sirbram Says:

    Cinta tertinggi bagi seorang muslim adalah cinta kepada Allah dan rasulNya. Kemudian cinta tersebutlah yg mendasari dan menjadi sebab cinta kepada yg lainnya spt kpd orang tua, keluarga dan seterusnya. Karena cinta kepada Allah dan rasulNya-lah kami dituntunkan utk mencintai sesama muslim bahkan kami diperintahkan utk bersopan santun dan berbuat baik kpd org2 yg non muslim yg mau hidup berdampingan dan tidak menampakkan permusuhan dg Islam. Meskipun hati kami “teriris” ketika mendapati org2 non muslim telah menyekutukan Allah dalam peribadatannya, namun kami tepap harus berbuat baik dan berlaku adil kpd mereka. itulah Indahnya dan toleransnya Islam

    Wanita Islam yg bersedia dimadu bukanlah wanita dungu, bahkan mereka adalah khairun Nisaa` (sebaik2 wanita) dan wanita yg shalihah dalam pandangan Allah dan kaum mukminin. Karena definisi dungu menurut Islam adalah mereka yg telah diberikan oleh Allah akal, pendengaran, penglihatan namun ia tidak mau menggunakan fasilitas2 tsb utk memahami dan mengamalkan ayat2 dan perintah serta larangan Allah, sebagaimana yg Allah Istilahkan kedunguan orang2 semacam ini didalam Al Qur`an dg istilah “seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat/rendah lagi derajatnya (dr binatang ternak)”. Adapun penilaian miring org2 thd poligami ini, maka hal itu sangat kami maklumi karena ketidakmengertian mrk thd perkara agama ini.

    Adapun tentang Hinaan anda kpd Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi Wasallam, maka saya peringatkan berhentilah melakukan hal tsb. krn kami punya prinsip dalam beragama yakni tidak akan mencari2 musuh, namun bila yg berani menantang-nantang maka kami pantang mundur kebelakang dan kami rela bertaruh nyawa utk membela kehormatan Allah dan nabi muhammad Shalallahu `alayhi wasallam. Kami menghormati kalian dimana Allah didalam Al qur`an melarang kami menghina agama dan tuhan kalian dihadapan kalian, maka jangan kalian tunjukkan akhlak jelek kalian yg berbahaya itu.
    Nabi MUhammad bukan seorang yg hypersex (astaghfirullah), beliau Shalallahu `alayhi wasallam adalah laki2 normal spt keumuman laki2. hanya saja Allah sangat memahami dan menyayangi hambanya, shg memberikan peluang utk menikahhi 4 wanita guna menyalurkan hasrat sexual yg diakui ataupun tidak pasti dialami oleh laki2 yg normal. shg dg itu Allah mengharamkan selingkuh dan menghalalkan poligami adalah sebuah rahmat dan kasih sayang Allah kpd hambanya. betapa banyak orang yg katanya setia kpd satu istri “one man on female” namun secara tidak jantan ia berselingkuh dg WIL (wanita idaman lain) atau yg sejenisnya. hal yg spt ini merupakan kehinaan dlm islam. karena memang pria yg normal ditaqdirkan oleh Allah membutuhkan lebih dr satu istri, shg bila kebutuhan itu dihambat2 atau disalurkan pada jalur yg tidak benar, maka akan merusak org tsb.
    Maka sekali lagi berhentikah menghina nabi Muhammad Shalallahu `alayhi Wasalllam bila tidak ingin merasakan buah pahit dari perbuatan anda tsb.Jika anda memang intelek, marilah berdialog secara ilmiyah ttg kekokohan agama kita shg tampak bagi kita siapa yg berada diatas kebenaran dan siapa yg sedang di dalam kesesatan.

  6. Bukan Ariel Says:

    aneh nih blog owner. mosok komentar kayak si ariel gitu kok di approve. jelas bukan komentar yang sehat dan menghina Rasulullah. jangan-jangan blog owner sendiri kawannya si ariel itu. atau malah ariel sendiri yang punya blog. selektif dong, wahai blog owner.

  7. abu thalib markaz taliban Says:

    Alhamdulillah, si bram mau poligami. sukses dah

  8. ivan_fals Says:

    Ane mo nyari istri ke dua nich, tapi susah banget ya yang mau untuk dijadikan istri ke 2, bisa minta tolong gak wahai kawan-kawanku.Kalo ada plz kirim bio data nya ke email ane di ivan_fals@yahoo.com

  9. Elly Latifah Says:

    Bismillah…
    komentar yang asbun jangan dianggap, kalau asal jangan usul, kalau usul jangan asal.. apalagi menghina Rasulullah shalallahualaihi wassalam. saya wanita yang posessive, suamiku tahu itu dan enjoy aja, tapi kalau Allah mentaqdirkan suami nikah lagi InsyaAllah saya akan beriman kepada taqdirnya dan akan tetap setia dan taat pada suami walaupun berat namun pahala Allah amat luas dan saya yakin dengan hal itu, jika saya sedih, hiburanku hanya dengan berdzikir pada Allah dan saya yakin Allah akan menghilangkan rasa sedihku, jika saya cemburu Insya Allah itu karena saya cinta pada suami.. yang pasti saya akan selalu mengingat kematian bahwa saya aakan bertemu dengan Allah Taala.. itulah hiburanku…… Ya Allah yang membolak balikkan hati tetapkanlah hatiku dalam Agama-Mu Amiin…….

  10. decroly Says:

    Maaf yang menamakan dirinya Aril,Bukan Ariel ataupun tetek bengeknya, sebaiknya anda jangan asal-asalan dalam menyimpulkan sesuatu. Insyaallah saya kenal baik dengan pemilik blog ini. Jadilah pengisi blog dengan bahasa-bahasa yang santun dan jangan asal2an dalam berkomentar. Mungkin kalau belum tau/ belum kenal ya kenalan dulu lah. Kalau memang gentleman ya ketemuan langsung saja ndak usah neko-neko. Saya siap ko’ klo memang anda sekalian bertanggung jawab. terimakasih

  11. nisa Says:

    maha suci ALLAH dari segala kotoran dunia…
    tentang poligami ,saya beriman kepada ALLAH, andai suatu saat sy berumah tangga dan suami sy hendak mempoligami sy,klo itu emang kehendak ALLAH sy ikhlas,asalkan didalam berpoligami emang benar2 di niatkan ibadah pada ALLAH bukan karna untuk memuaskan nafsu atau ingin mencoba rasa dari wanita 1 ke wanita yg berikutnya[klo niat yg kedua ini tujuan suami mempoligami ,saya seorang wanita merasa terhina dan teraniaya] jika istri sudah merasa teraniaya trus bagaimana menghadapi istri yg berikutnya……..,bolehlah bagi kaum adam beristri sampe 4,aslkan harus bisa menaklukan istri2 yg sudah ada, menaklukan dlm arti benar2 tlah memberikan arahan dan bimbingan akhlak yg mulia[akhlak istri yg sholihah] andai mendidik yg sudah ada juga belum jos,buat apa cari berikutnya…….?itu sudah bukan lagi disebut untuk menunaikan sunatulloh dan untuk ibadah pada ALLAH SWT ,[karena nafsu belaka]. padahal cinta kepada ALLAH melebihi cinta pada apapun yg ada[fana] karena kaum hawa adalah termasuk hiasan dunia,[maka hati hatilah ] alangkah baiknya ajaklah kami menuju cinta ALLAH YG HAKIKI,dunia terlalu banyak dg tipuan penilaian[fatamorgana].waspadalah wahai kaum adam ……..dunia itu sangat manis menggiurkan ,[jadilah kekasih ALLAH bukan kekasih kaum hawa yg didlm hati hawa terselip beberapa prasangka yg pasti hanya ALLAH yg maha tau……
    [saya beriman kepada ALLAH dan ROSULLULLOH ] tentang poligmi sy beriman itu datangnya dari ALLAH ,”AMIN…….

    wallohu a’lambissowab

  12. YARHAN Says:

    Orang yang berpoligami itu adalah orang yang pemberani menanggung resiko karena perintah Allah di akhir ayat “jika kalian takut tidak dapat berbuat adil maka cukup satu saja, jika alasan cuma penasaran rasa istri kedua ketiga dan keempat itu karena memang orangnya yang ganjen. Nabi adam a.s cukup 1 saja siti hawa karena tulang rusuk sebelah kiri cuma 1 yang diambil.

    • sirbram Says:

      Ya. manusia tidak sama yaa akhi. ada yang ganjen namun ada yang memang kebutuhan biologis. Karena memang lelaki itu Allah ciptakan terkadang tidak cukup dg satu istri, sebaliknya istri Allah ciptakan memang mencukupkan diri dg satu suami. Ini sunnatullah. Dan poligami itu bukan hanya sebagai amalan sunnah, namun juga sebagai sarana menikmati kehidupan seksual yang halal dan resmi.

      • kelik Says:

        @sibram… bolehkah kita beramal dengan menyakiti orang lain????apa lagi itu istri kita.apakah dulu nabi waktu mau kawin lagi minta ijin dulu sama isrti2nya,apakah nabi mendapatkan restu atas niatnya tersebut,bukan kah dalam pernikahan tidak boleh ada kebohongan (waktu ijab),klu laki2 nikah lagi sementara dia telah beristri,tapi waktu ijab dia bilang masih perjaka…sah kah perkawinan tersebut,disebutkah perkawinan tersebut sebagai ibadah…ibadah apa yang di ijinkan dengan berbohong…mohon penjelasannya……….trimakasih

      • sirbram Says:

        Memang Rasulullah shalallahu `alayhi wasallam tidak meminta izin waktu melakukan poligami, tapi apakah anda ingin mengatakan pernikahan beliau itu tidak sah? atau pernikahan para khulafa` rasyidin itu jg tidak krn tidak mendapat restu istri beliau2? na`udzubillah. ini namanya pemikiran terbalik. meskinya segenap hawa nafsu dan perasaan kita sebagai manusia itu ditundukkan kpd syari`at ini, jangan dibalik. Dan sekali lagi ada apa kok harus berbohong…? toh tidak ada syarat di dalam syari`at bahwa yang menikah harus perjaka tulen. Maka pahamilah wahai saudaraku. syari`at tidak diatur oleh perasaan suak atau tidak suka manusia, akan tetapi justru segenap perasaan kita itulah yang harus tunduk kpd syari`at Allah ini. makanya kita dinamakan umat ISLAM yakni tunduk, menundukkan segala hawa nafsu kita dihadapan syari`at Allah ta`ala.

  13. ronym Says:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.
    Dunia memang sudah terbolak-balik…
    (Jika menurut Sabda Rasulullah, saat islam muncul dianggap sesuatu yang asing, kemudian menjadi umum dan akhirnya akan menjadi asing lagi).
    Dan di akhir zaman memegang islam seperti memegang bara api. Dilepas, hilanglah keimanan kita.
    Digenggam, semakin terbakar (dihina, dicampakkan, diasingkan bahkan diperangi). Seakan-akan di dunia ini kebenaran tidak ada bedanya dengan kesalahan. Keadilan tidak ada bedanya dengan korupsi, penipuan dan pemerasan.
    Begitupula selingkuh…dianggap biasa, manusiawi dan pelakunya dimaafkan atas dasar manusia bisa lupa dan salah. Namun tetap diulanginya lagi…karena toh pasti dimaafkan untuk yang ke 2,3,4, dst.
    Zina…di SAH kan dengan cara dilokalisasi (diberikan izin praktek ).
    Dan pelajar yang hamil diluar nikah dianggap biasa…
    Menikah…diperlama dengan alasan kuliah, belum punya penghasilan cukup, belum punya rumah, pekerjaan mapan…
    Naudzubillahi mindzalik…
    Memang benar Rasulullah…hidup di zaman ini sulit membedakan yang benar (ibarat mencari jarum ditumpukan jerami), bersabar dengan segala ujian dunia dan bertawakkal mengharap surga yang Allah janjikan…namun tentu dengan pengorbanan…
    Tidak ada yang GRATIS…
    There is always a cost…
    ada harga yang musti kita bayar…
    Walaupun hanya berupa…
    keikhlasan dan kesabaran.
    Wassalam.

  14. nisa Says:

    salam sejahtera untuk keluarga tuan sirbram,semoga selalu dalam lindungan yg maha Kuasa

    saya hendak tanya tentang kebolehan dalam hukum agama ‘bilakah 1 laki2 punyai 2 istri dan tinggal 1 rumah dan 1 kamar dan pula berhubungan badan bertiga pula ,bagaimana menurut hukum yg sebenarnya..???
    bolehkah itu..??
    dalam berhubungan badan antara 2 wanita itu pula melakukan cumbuan antara badan bagian atas sahaja.apakah agama mengizinkan…???
    suami melakukan itu kerana hendak membahagiakan kedua2nya.

    maaf tuan sirbram tentang soalan ini.tapi ini benar akan berlaku,jadi saya pribadi meminta penjelasan dari tuan sebelum semua terlambat.
    mohon jawaban yg bijaksana seperti halnya anda memberikan cahaya pada orang yg buta”trimakasih”

    wassalam

    • sirbram Says:

      Diantara para ulama membenci hal tersebut. Alasanya antara lain:
      Ibnu Syaibah rahimahullah di dalam kitab Al-Mushannaf (IV/388) berkata, “Abad bin Al-Awam mengabarkan kepadaku dari Ghalib, dia berkata, “Aku pernah tanyakan kepada Hasan –atau ditanya- tentang seorang laki-laki yang mempunyai dua isteri di dalam satu rumah? Dia menjawab, Mereka (para Sahabat) memakruhkan al-wajs, yakni dia menggauli salah seorang dari keduanya sementara yang lainnya melihat”. Atsar ini shahih.

      Di dalam kitab Al-Mughni (VII/26), Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Seorang laki-laki tidak boleh menghimpun dua isterinya di dalam satu tempat tinggal tanpa keridhaan keduanya, baik itu masih kecil maupun sudah tua, karena antara keduanya terdapat mudharat, dimana antara kedunaya ada permusuhan dan kecemburuan. Sementara penyatuan keduanya dapat menyulut pertengkaran dan peperangan. Dan masing-masing dari keduanya akan mendengar gerakannya jika dia menggauli isterinya yang lain atau bisa juga dia akan melihat hal tersebut. Dan jika keduanya sama-sama setuju dengan hal tersebut, maka hal itu dibolehkan, karena hak itu milik keduanya, sehingga keduanya diberi toleran untuk meninggalkannya.

      Demikian juga jika keduanya rela suami mereka tidur di antara keduanya dalam satu selimut. Dan jika keduanya rela untuk suami mereka mencampuri salah seorang dari mereka dengan disaksikan oleh lainnya, maka yang demikian itu tidak diperbolehkan, karena hal tersebut mengandung kehinaan, kenistaan, dan jatuhnya kewibawaan sehingga hal tersebut tidak diperbolehkan meskipun keduanya membolehkan”.

      Imam Al-Qurthubi (XIV/217) berkata, “Tidak diperkenankan mengumpulkan para isteri di satu rumah, kecuali jika mereka rela”.

      Di dalam kitab Al-Majmu Syarhul Muhadzdzab dikatakan (XVI/415), “Jika seorang suami memiliki beberapa isteri yang tidak ditempatkan di dalam satu rumah, kecuali dengan kerelaan mereka atau salah seorang dari mereka, karena hal itu dapat menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk mencampuri salah seorang dari mereka ketika yang lainnya tengah berada bersamanya karena yang demikiian itu adalah adab yang tidak baik lagi merusak hubungan”

      Catatan.
      Diantara bentuk kelaziman rumah yang mandiri bagi setiap isteri adalah tidak ada campur tangan dalam hal makanan di antara isteri-isteri. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh hadits terdahulu, “Lalu salah seorang Ummahatul Mukminin mengirimkan satu piring yang di dalamnya terdapat makanan”. Hadits ini menunjukkan bahwa makanan masing-masing isteri terlepas dari yang lainnya. Tetapi, jika mereka tengah berkumpul dalam suatu jamuan dengan keridhaan dari semua isteri, maka hal itu tidak ada masalah. Wallahu a’lam.

      [Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

  15. nisa Says:

    salam

    trimakasih saya haturkan,semoga Allah membalas jasa anda dan memudahkan segala urusan anda

    wassalam

  16. sirbram Says:

    amin… barakallahu fiik

  17. budi tegal Says:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb
    koq ga ada seleksi komentar yah… ingat loh arikel anda akan terus dibaca..
    trimakasih. mohon izin menyimak..
    wasalam

  18. arai Says:

    “Berpoligami dengan tujuan menyalurkan syahwat, ini lebih utama lagi. Karena didasari kekhawatiran akan terjatuh kepada yang haram. Jejaka yang normal pasti memiliki rasa penasaran kepada perempuan, biasanya standarnya masih rendah, yakni asal wanita. Begitu dia menikah, maka rasa penasaran kepada perempuan itupun tertunaikan dan akhirnya dengan menikah itu dapat menahan pandangannya dari yang haram”

    kalau begitu, poligami khusus untuk seekor sapi… hidup kok untuk syahwat.. nggak beda sama binatang

    • sirbram Says:

      Mungkin bagi orang2 abnormal yang tidak punya syahwat bisa bilang begitu, tapi kalau lelaki normal, pasti punya syahwat yang harus disalurkan. Sebab Syari`at menuntunkan agar syahwat itu tidak ditahan bila memang tidak mampu, akan tetapi disalurkan yg tentu ke saluran yang benar.
      Memang manusia punya syahwat, sapi juga punya syahwat, tp bedanya syahwat manusia diatur penyalurannya sementara syahwat sapi tidak diatur penyalurannya sehingga dikalangan sapi diperbolehkan pergaulan bebas.
      Jadi poligami itu untuk manusia karena tatacaranya diatur, bukan untuk sapi, krn sapi itu tidak diikat dg aturan apapun. Semoga anda bisa memahami.

      • kelik Says:

        @sirbram…manusia apa kita ini kalau tidak bisa mengendalikan nafsu…bukankah bila kita telah bernafsu tapi kita takut akan dosa maka kita di harapkan untuk berpuasa..karena dalam puasa itu terdapat untuk menahan nafsu…kenapa tidak mengutamakan untuk berpuasa dulu…tapi melampiaskan nafsu dengan kawin lagi….klu nikah hanya didasari nafsu,kebohongan lalu akan sampai mana pernikahan tersebut.mungkin anda salah satu orang yang sangat setuju dengan kawin kontrak yang marak dilakukan orang arap di indonesia. nikah siri yang dilakukan hanya untuk sembunyi2 menyimpan banyak kebohongan.bagaimana menurut anda bila di lokalisasi disiapkam penghulu & saksi jadi orang yang mau kawin disana bisa melakukan dengan sah……..bukankah secara syarat juga akan terpenuhi.maha besar allah dengan segala rahmatnya.cobalah dengan satu,bahagiakan,jangan sakiti,bimbing,naik haji berdua itu lebih bagus kali……….

      • sirbram Says:

        memang betul tahap pertama adalah puasa, dan poligami adalah tahap berikutnya. Krn terkadang nafsu itu tidak bisa di bendung secara mutlaq. Maka utk yang spt ini solusinya bukan terus ditahan, krn pasti jebol, akan tetapi disalurkan melalui saluran resmi dan halal (bukan sembarang saluran lho). Nah Poligami adalah satu2nya saluran yang halal bg pria yang sudah menikah. Dan ini manusiawi, bahkan dicontohkan oleh rasulullah dan para shahabatnya. Dan poligami tidak harus bohong. Ada apa kok harus bohong, sebab ini perkara halal. Adapun kawin kontrak, saya adalah orang yang sangat mengingkari hal tsb. Beda lho poligami dg kawin kontrak. Sebab kawin kontrak yang biasa dilakukan orang2 syi`ah itu tidak ada tuntunannya dari Islam. Tentang menyediakan penghulu di lokalisasi, yang boleh2 saja asal niatnya nikah beneran bukan kawin kontrak. Artinya betul 2 ingin menikahi utk selama2nya bukan hany utk jangka waktu tertentu saja.
        Bila memang kita hanya mencukupkan diri dg satu istri … ya satu saja, jangan coba2 2,3 atau 4. namun bila kita mampu, maka tidak ada salahnya mengambil keutamaan poligami tsb. Yang terpenting jangan sampai kita mengingkari apa yang telah Allah tetapkan menjadi syari`atnya walaupun satu huruf, wallahi jangan sampai kita mengingkarinya krn pengingkaran terhadap syari`at adalah penyebab batalnya keislaman seseorang. na`udzubillah.

  19. arai Says:

    sang nabi tak pernah menyontohkan hal semcam itu…poligami nabi bukan karena alasan syahwat… syahwat itu baru tingkat dasar…masak tiap kali kita berpuasa menahan syahwat saja masih gak mampu…

    nak muda, itu baru tingkat dasar dalam beragama… anda perlu mendalami tasawuff ma’rifat, supaya hati anda tersinari cahaya ilahi lebih dalam….

    • sirbram Says:

      Wahai orang tua, sebelum anda berkomentar, pelajari dulu asas-asas Islam spt Aqidah ahlissunnah wal jama`ah dst, agar anda dapat berkomentar dg ilmiyyah, bukan dengan perasaan dan ilmu kebatinan anda saja. Bila anda sudah mempelajari Islam dg benar, maka anda kan mengerti bahwa Islam itu mendidik ummatnya untuk berakal yang sehat, shg dg akal yg sehat itu kita bisa memahami agama itu dengan benar pula. shg anda kan dapati bahwa poligami itu bukan hanya menjalankan sunnah nabi, tapi juga sarana untuk menikmati kenikmatan sexual yang HALAL.
      Adapun tentang tingkatan dlm beragama yg terdapat didalam aqidah tasawwuf (sufiyyah), maka bila anda mau belajar sedikit saja ttg agama Islam dengan benar, maka anda juga akan mendpati bahwa pengelompokkan kasta2 dalam beragama itu adalah bid`ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. bahkan sebagian penganut aqidah ini menjadi sesat bahkan kafir. Jadi saya sama sekali tidak merasa tertarik untuk mendalami aqidah najis ini, karena Wallahi bukan cahaya ilahi yang akan saya dapatkan akan tetapi adzab dab siksaan ilahi yang menantinya. Na`udzubillah. Semoga Allah membimbing anda kepada hidayahNya.

    • Najieb Says:

      Tasawuf ???

  20. neny prita Says:

    Assalamu’alaikum,
    Sy seorang madu dr seorang wanita sholihah (insya alloh), sdh 1 tahun ini kmi mulai rutin mncari ilmu ikut kajian2 manhaj ahlusunnah ini. Teman2 kmi di pengajiant (yg umummya sdah hfaham ttg keuitamaan ta’addlud wlopun hanya sdikit dr mreka yg mngalimanya) maseih ter-heran2 mlihat keakraban kmi berdua trutama thdp “kakak” sy yg bgitu tegarnya.
    Ustdaz yg dirahmati Alloh, mohon saran, sy ingin menghadiahkan sebuah kitab kepadanya yg isinya bgmn menjaga keikhlasan, melawan rasa cemburu dll (karena sy 10 tahun lebih muda darinya)… sy sangat menyayanginya.. sehingga sy menginkan dia selalu dlm ridho Alloh Ta’ala

    • sirbram Says:

      Ana bukanlah seorang Ustadz, ana hanya thalibul `ilm. Alhamdulillah hubungan antuma dalam keadaan baik, itu merupakan keutamaan dari Allah. Ada banyak kitab yang bisa anti hadiahkan kepadany, antara lain kitab Nashihati Lin Nisa karya Ummu Abdillah Al-Wadi iyyah. itab ini sudah diterjemahkan oleh kalau tidak salah penerbit pustaka sumayyah. Referensi selainnya bisa anti tanyakan kepada utadz2 yang lebih hafal tentang kitab2 yang berkaitan dengan itu. Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan antum.

  21. ysf Says:

    ALLAH S.W.T yang maha segala2nya telah menciptakan manusia dengan sempurna, dan berbeda dengan ciptaan makhluknya yang lain, dan manusia yang paling mulia dan yang paling dicintai ALLAH S.W.T adalah nabi MUHAMMAD S.A.W, maka ikutilah apa yang dianjurkannnya dan jauhilah yang dilarangnya, dan masalah poligami Rasulullah nabi Muhammad S.A.W sendiri melakukannya, dan menganjurkannnya, tinggalkanlah manusia yang hanya mengedepankan perasaan yang didasari oleh logika akal yang dibimbing oleh nafsu saja, yang mengukur segala sesuatunya dengan perasa,an saja, dan berkedok melanggar hak azazi manusia ( wallahu,alam ) dan untuk akhina sirbram, ana sangat setuju sekali, semoga ALLAH S.W.T selalu melindunginya dan menerima amalannya, amin ya rabbal alamin.

  22. lysa Says:

    Assalamualaikum, wr.wb,
    Saya setuju bahwa yang kelihatannya buruk belum tentu buruk, justru bisa jadi baik di mata Allah, kadangkala apa yang di syaratkan dan di atur dalam agama memang tidak bisa di logika dengan pikiran, karena agama hendaknya berjalan beriringan bukan dicampur adukkan. Mengenai poligami, pada dasarnya Nabi-nabi kita sebenarnya memang banyak yang melakukan poligami, kecuali Adam, sepertinya hanya dengan Hawa. Saya pernah membaca kitab agama lain dan disitu sepertinya juga ditulis bahwa keturunan keturunan nabi sesungguhnya berpoligami jika dibaca silsilahnya tapi saya juga kurang paham mengapa mereka seolah anti poligami. Saya bukan orang yang membenci poligami tapi juga tidak membernarkan karena saya bukan Allah, Tuhan Yang Berhak Mengadili mana yang benar dan mana yang salah. Saya seorang wanita, jujur pasti akan kecewa bila dipoligami, karena ini butuh keihlasan yang luar biasa. Tapi saya jujur terkadang bingung, ketika salah seorang sahabat mencela esensi poligami yang katanya poligami itu sesat, karena sesungguhnya hanya ada Hawa, yang dinikahi Adam, bukan Hawi, Hawu dan perempuan lainnya, kadangkala saya bingung harus menjelaskan bagaimana. Namun saya tetap percaya Allah Memiliki Kehendak lain yakni rencana yang baik hingga mengapa poligami dihalalkan, tapi sayangnya harus saya akui saya kurang begitu setuju poligami dilakukan di jaman seperti ini, bukannya kenapa, saya hanya opini, saya tidak bermaksud menghasut atau membenarkan atau menyalahkan.
    Menurut saya, poligami yang dilakukan saat ini, hanya berdasar syahwat semata, bukan ibadah, Sebagai contoh, para lelaki, hanya mau menikahi wanita yang lebih muda. Apalagi saya juga ingin menyelamatkan suami saya kelak dari api neraka, bukankah apabila seorang istri merasa sakit hati setelah dipoligami, maka bisa menimbulkan dosa bagi si suami nantinya, maka saya tidak menginginkan suami saya nanti berpoligami. Menurut saya ibadah yang baik bukanlah yang hanya berdasar syahwat semata, melainkan seperti yang saya katakan setuju dari awal tadi, bahwasanya yang kelihatannya susah(sehingga dipandang buruk) dilakukan akan tetapi sesungguhnya baik di mata Allah, jadi baik bagi istri juga laki-laki sama-sama dipandang susah dilakukan, saya lihat poligami memang susah dilakukan, tapi jika dilakukannya hanya demi kepentingan syahwat semata, bukankah itu sia-sia adanya?karena hanya memuaskan semata. Saya juga kurang setuju jika dengan rasa penasaran, mengapa harus terus diberi kesempatan menikah lagi? Bukankah esensi dari menikah adalah menerima kelebihan dan kekuarangan dari pasangan secara ikhlas lahir dan batin, bagaimana jika sudah menikah empat kali tetapi masih saja diburu rasa penasaran? Buktinya banyak pria menikah lebih dari empat kali. Ini bukanlah hal yang mengeherankan, karena manusia dibekali perasaan yang tidak akan pernah puas(ini dinamakan nafsu). Seperti awalnya meminta satu lama-lama jadi dua,tiga dan seterusnya, ini wajar, jadi sebagai hamba Allah sudah sepantasnya kita yang mengendalikan hal ini, bukankah juga sesungguhnya yang berlebihan itu dibenci oleh Allah SWT?
    Ini hanya opini saya, saya bukan orang yang ingin membenarkan atau menyalahkan, saya sendiri dibesarkan dari seorang ayah(kini Almarhum) yang berpoligami dan memiliki istri tiga, saya tidak keberatan dan tidak menentang, tapi jujur kadangkala poligami masih menyisakan polemik di dalam kehidupan, terjadinya pertengkaran antara para istri, bahkan saat sang suami meninggal dan para istri dibingungkan dengan keadaan harta waris, itu semua hendaknya juga dipikirkan bagi pasangan yang akan berpoligami, karena dikhawatirkan istri dan anak-anaknya lah yang akan jadi korban, coba kita renungkan, memiliki satu istri saja kadang laki-laki belum tentu bisa menafkahi lahir batin dengan cukup, bagaimana jika dua atau lebih? Tentu akan merepotkan bukan?
    Apalagi pandangan saya, bukankah poligami banyak dilakukan pada jaman para nabi, itu karena mereka memiliki sifat ikhlas dan teladan yang baik.
    Bagaimana jika dilakukan pada jaman sekarang?
    Saya memiliki pandangan, bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nabi akhir jaman, jadi bukankah kita ini sebenarnya hidup di akhir jaman yang tidaklah sama dengan jaman para nabi karena sudah mendekati hari akhir(kiamat), bukankah dengan meninggalnya Rasulullah juga menjadi pertanda mendekati akhir jaman? Jadi bagi saya, jangan coba-coba berpoligami jika tidak mampu di jaman yang sudah mendekati akhir ini, karena bisa saja berubah esensinya, dari niat untuk berbuat baik menjadi tidak baik. Bukankah pada akhir jaman, kelakuan manusia sudah tidak bisa disamakan dengan yang ada pada jaman para nabi kita dulu? Jadi, perlu waspada juga, karena sudah banyak contohnya manusia sekarang lebih mementingkan nafsu daripada beribadah yang ikhlas kepada Allah SWT.
    Saya sendiri jujur tidak kuat jika harus dipoligami, tapi saya bukan penentang poligami, Alhamdulillah calon suami saya juga bukan tipe orang yang menginginkan poligami dan beliau seorang mualaf.
    Semoga opini saya ini bisa menjadi renungan walau hanya sekedar opini bukan untuk menjudge yang macam-macam.
    Wassalam.

  23. NN(hamba Allah) Says:

    Assalamualaikum, wr.wb,
    Saya setuju bahwa yang kelihatannya buruk belum tentu buruk, justru bisa jadi baik di mata Allah, kadangkala apa yang di syaratkan dan di atur dalam agama memang tidak bisa di logika dengan pikiran, karena agama hendaknya berjalan beriringan bukan dicampur adukkan. Mengenai poligami, pada dasarnya Nabi-nabi kita sebenarnya memang banyak yang melakukan poligami, kecuali Adam, sepertinya hanya dengan Hawa. Saya pernah membaca kitab agama lain dan disitu sepertinya juga ditulis bahwa keturunan keturunan nabi sesungguhnya berpoligami jika dibaca silsilahnya tapi saya juga kurang paham mengapa mereka seolah anti poligami. Saya bukan orang yang membenci poligami tapi juga tidak membernarkan karena saya bukan Allah, Tuhan Yang Berhak Mengadili mana yang benar dan mana yang salah. Saya seorang wanita, jujur pasti akan kecewa bila dipoligami, karena ini butuh keihlasan yang luar biasa. Tapi saya jujur terkadang bingung, ketika salah seorang sahabat mencela esensi poligami yang katanya poligami itu sesat, karena sesungguhnya hanya ada Hawa, yang dinikahi Adam, bukan Hawi, Hawu dan perempuan lainnya, kadangkala saya bingung harus menjelaskan bagaimana. Namun saya tetap percaya Allah Memiliki Kehendak lain yakni rencana yang baik hingga mengapa poligami dihalalkan, tapi sayangnya harus saya akui saya kurang begitu setuju poligami dilakukan di jaman seperti ini, bukannya kenapa, saya hanya opini, saya tidak bermaksud menghasut atau membenarkan atau menyalahkan.
    Menurut saya, poligami yang dilakukan saat ini, hanya berdasar syahwat semata, bukan ibadah, Sebagai contoh, para lelaki, hanya mau menikahi wanita yang lebih muda. Apalagi saya juga ingin menyelamatkan suami saya kelak dari api neraka, bukankah apabila seorang istri merasa sakit hati setelah dipoligami, maka bisa menimbulkan dosa bagi si suami nantinya, maka saya tidak menginginkan suami saya nanti berpoligami. Menurut saya ibadah yang baik bukanlah yang hanya berdasar syahwat semata, melainkan seperti yang saya katakan setuju dari awal tadi, bahwasanya yang kelihatannya susah(sehingga dipandang buruk) dilakukan akan tetapi sesungguhnya baik di mata Allah, jadi baik bagi istri juga laki-laki sama-sama dipandang susah dilakukan, saya lihat poligami memang susah dilakukan, tapi jika dilakukannya hanya demi kepentingan syahwat semata, bukankah itu sia-sia adanya?karena hanya memuaskan semata. Saya juga kurang setuju jika dengan rasa penasaran, mengapa harus terus diberi kesempatan menikah lagi? Bukankah esensi dari menikah adalah menerima kelebihan dan kekuarangan dari pasangan secara ikhlas lahir dan batin, bagaimana jika sudah menikah empat kali tetapi masih saja diburu rasa penasaran? Buktinya banyak pria menikah lebih dari empat kali. Ini bukanlah hal yang mengeherankan, karena manusia dibekali perasaan yang tidak akan pernah puas(ini dinamakan nafsu). Seperti awalnya meminta satu lama-lama jadi dua,tiga dan seterusnya, ini wajar, jadi sebagai hamba Allah sudah sepantasnya kita yang mengendalikan hal ini, bukankah juga sesungguhnya yang berlebihan itu dibenci oleh Allah SWT?
    Ini hanya opini saya, saya bukan orang yang ingin membenarkan atau menyalahkan, saya sendiri dibesarkan dari seorang ayah(kini Almarhum) yang berpoligami dan memiliki istri tiga, saya tidak keberatan dan tidak menentang, tapi jujur kadangkala poligami masih menyisakan polemik di dalam kehidupan, terjadinya pertengkaran antara para istri, bahkan saat sang suami meninggal dan para istri dibingungkan dengan keadaan harta waris, itu semua hendaknya juga dipikirkan bagi pasangan yang akan berpoligami, karena dikhawatirkan istri dan anak-anaknya lah yang akan jadi korban, coba kita renungkan, memiliki satu istri saja kadang laki-laki belum tentu bisa menafkahi lahir batin dengan cukup, bagaimana jika dua atau lebih? Tentu akan merepotkan bukan?
    Apalagi pandangan saya, bukankah poligami banyak dilakukan pada jaman para nabi, itu karena mereka memiliki sifat ikhlas dan teladan yang baik.
    Bagaimana jika dilakukan pada jaman sekarang?
    Saya memiliki pandangan, bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nabi akhir jaman, jadi bukankah kita ini sebenarnya hidup di akhir jaman yang tidaklah sama dengan jaman para nabi karena sudah mendekati hari akhir(kiamat), bukankah dengan meninggalnya Rasulullah juga menjadi pertanda mendekati akhir jaman? Jadi bagi saya, jangan coba-coba berpoligami jika tidak mampu di jaman yang sudah mendekati akhir ini, karena bisa saja berubah esensinya, dari niat untuk berbuat baik menjadi tidak baik. Bukankah pada akhir jaman, kelakuan manusia sudah tidak bisa disamakan dengan yang ada pada jaman para nabi kita dulu? Jadi, perlu waspada juga, karena sudah banyak contohnya manusia sekarang lebih mementingkan nafsu daripada beribadah yang ikhlas kepada Allah SWT.
    Saya sendiri jujur tidak kuat jika harus dipoligami, tapi saya bukan penentang poligami, Alhamdulillah calon suami saya juga bukan tipe orang yang menginginkan poligami dan beliau seorang mualaf.
    Semoga opini saya ini bisa menjadi renungan walau hanya sekedar opini bukan untuk menjudge yang macam-macam.
    Terima Kasih,
    Wassalam.

    • sirbram Says:

      @ NN(hamba Allah) semoga Allah sennantiasa membimbing anda menuju hidayahNya. pyang perlu anda fahami adalah anda itu ummat Nabi Muhammad Shalallahu `alayhi wasallam dan bukan ummat nabi adam,. jd dalam mengamalkan agama anda hanya dituntut utk mengikuti jejak agamanya Nabi Muhammad Shalallahu `alayhi wasallam. Dan realitanya Nabi Muhammad Shalallahu `alayhi wasallam ber[poligami dan krn itulah para shahabat, ulama kiyai dsb juga berpoligami.
      Kemudian ttg keberatan anda beribadah krn syahwat, sy ingin bertanya seorang muslim itu menikah krn apa? krn ingin menyalurkan syahwatnya pada jalur yang benar kan. dan poligami itu juga dg nikah, bukan selingkuh ataupun pemerkosaan. Krn yang namanya syahwat itu tidak bisa ditahan akan tetapi harus disalurkan ke saluran yang resmi. dan Allah menaqdirkan kpd laki2laki utk boleh menyalurkannya kepada lebih dari satu istri.
      Tentang sakit hati anda, sesungguhnya sama ktk para shahabat dari kalangan pria diperintah Allah dan rasulnya utk berperang melawan musuh kafir, mrk para shahabat juga susah hati mrk, bahkan ada beberapa orang shahabat yang mangkir tidak ikut jihad sampai diboikot nabi selama sebulan lebih tidak diajak komunikasi sampai2 dunia ini terasa sempit dan sesak bagi mereka. jd sama saja, anda sebagai wanita dipaksa oleh Allah utk tunduk kpd syari`at yang menyakitkan perasaan kemanusiaan anda sbg wanita dg poligami ini, dan kami kaum pria pun di paksa oleh Allah utk tunduk kpd syari`at jihad yang jg kami benci seacra manusiawi yakni qital/perang.
      mengenai bingung membagi harta waris, pertanyaan sy apakah kasus kehilangan sandal saat jum`atan yang sering terjadi di masjid2 harus menggugurkan kewajiban shalat jum`at dimasjid? tentu tidak akan begitu. demikian pula dalam hal ini, jangan anda gugat syari`at poligami ini hanya dengan kasus2 yang kasuistis yang terjadi di lapangan. Semoga anda bisa memahami bahwa betapa kita diminta utk islam yakni mengislamkan (menundukkan) seluruh jiwa raga kita kepada Islam secara total. wallahu a`lam.

  24. NN(hamba Allah) Says:

    Lanjutan : Kita sebagai Manusia yang diciptakan sempurna oleh Allah SWT yang dibekali hawa nafsu dan akal berpikir hendaklah menggunakan dengan baik. Hawa nafsu memang sudah menjadi bagian dari manusia, hendaklah kita yang mengendalikan dan akal berpikir sesungguhnya harus digunakan dengan baik. Kita diberi akal pikiran untuk bepikir dan membedakan mana yang baik dan yang buruk, sesungguhnya agama adalah sebagai pegangan saja, Allah lah yang menilai benar buruk segalanya, tetapi kita manusia juga diberi kemampuan tersebut walau tidak sama dengan yang dimiliki Allah, tapi paling tidak pikirkan semuanya dengan baik dan benar sebelum melakukan, karena semua akibat baik buruknya, kitalah dan orang-orang yang kita cintai yang akan menanggungnya.

  25. Ummu Izzy Ahmad Auza'i Says:

    izin share… jazakumullah khoir…

  26. Askartasas/Ade Says:

    Assalamualaikum warokhmatullahi wabarokaatuh.

    Aku mau ikut nimbrung, jelasin apa dan bagaimana sebenarnya poligami menurut Islam dengan berpedoman pada QS.4;3 dan lainnya. Dengan maksud agar anda-anda yang berkomentar pada blog ini paham apa sebenarnya poligami.

    P O L I G A M I Menurut ISLAM

    Kalau selama ini pernah berlaku bahwa seorang lelaki beristri lebih dari satu, sedangkan tiada dari istrinya itu beranak yatim, maka lelaki itu tidak memiliki dasar hukum atas perbuatannya.
    Hukum poligami hanyalah QS. 4;3 (surat 4 ayat 3) yang maksudnya ;
    QS. 4;3 ; Jika kamu cemas tidak dapat berbuat efektif pada anak-anak yatim, maka nikahilah yang baik bagimu perempuan (beranak yatim) dua,dan tiga, dan empat. Jika kamu cemas tidak dapat berbuat adil maka satu saja atau yang dimiliki tata hukummu (yang sudah dinikahi saja). Demikian lebih rendah agar kamu tidak berbuat sombong.

    Perintah poligami bermaksud agar terdapat susunan sosial yang normal. Islam sangat mencela sikap hidup yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa mengindahkan keadaan orang lain. Kematian seorang bapak menyebabkan adanya anak yatim dan seorang ibu yang kekurangan biaya hidup serta penderitaan batin, maka seorang lelaki yang berkesanggupan hendaklah menikahi janda itu dengan maksud
    membantu mengurangi penderitaannya dan anak-anaknya.
    Poligami dalam Islam bukanlah didasarkan atas pelepas syahwat, tetapi
    sesuai dengan maksud QS. 4;3 hanyalah untuk kestabilan hidup anak
    yatim dan ibunya yang janda. Dan ditinjau dari kerukunan masyarakat,
    maka QS. 4;3 mengandung fungsi ;

    a.Anak yatim dapat dibantu dengan mengadakan baginya seorang bapak tiri yang akan membelanjai dan mendidiknya, atau sekurang-kurangnya akan memimpin selaku kepala rumah tangga.
    b. Perempuan janda dapat dinikahi lelaki berkesanggupan untuk
    membantunya meringankan kesusahan ekonomi dan tekanan batin.
    c. Istri, yang memiliki suami berpoligami, jika tidak mengindahkan
    keadaan suaminya, maka sikap demikian berarti tidak mematuhi hukum
    ALLAH, mementingkan diri sendiri, tidak mempedulikan janda dan anak
    yatim hidup menderita.

    QS. 4;129 ; Tidaklah kamu akan sanggup adil antara perempuan-perempuan (dalam poligami) walaupun kamu mengharapkan, maka
    janganlah rubuh pada tiap kerubuhan lalu kamu biarkan dia seperti lintah. Jika kamu shaleh dan menginsyafi maka ALLAH pengampun penyayang.

    Dari ketentuan ALLAH pada QS. 4;3 dan QS. 4;129 dapat diartikan
    bahwa perintah poligami bagi lelaki berkesanggupan hanyalah menikahi
    janda beranak yatim yang padanya dipentingkan pemberian bantuan dan perawatan sebagai anggota keluarga. Suami tidak mungkin benar-benar berbuat adil diantara istrinya yang lebih dati satu, terutama dalam hubungan batin, karenanya nyatalah perintah poligami bagi lelaki bukan untuk menikahi beberapa perempuan yang disukai karena cantik dan perawan. Namun perintah poligami bagi yang sanggup adalah keshalehan yang menguntungkan masyarakat dan tidak begitu merugikan istri pertama dalam hubungan lahir batin. Tentang inilah dia (istri pertama) diharapkan bertabah hati dan sedikit mengalah untuk kepentingan sosial ekonomi dan kestabilan masyarakat lingkungan di mana dia juga ikut bertanggung jawab. Dengan begitu dia tidak membiarkan janda beranak yatim hidup berupa pacet (lintah) menjilat tanah.

    Ingatlah, bahwa poligami hanya diperintahkan bagi lelaki
    berkesanggupan untuk menikahi janda beranak yatim. Orang mengira bahwa QS. 4;3 merupakan keijinan bukan perintah, padahal ayat suci itu secara jelas menyatakan perintah untuk keselamatan hidup anak yatim, ibunya yang janda, dan masyarakat sekitarnya.
    Islam tidak pernah membolehkan poligami sembarangan, karena poligami yang sembarangan bukan memperbaiki keadaan masyarakat tetapi sebaliknya menambah parah keadaan masyarakat dengan jumlah janda beranak yatim bertambah banyak.
    Jadi, tradisi poligami yang berlaku selama ini nyatanya menimbulkan kericuhan hidup masyarakat dalam berbagai bidang dimana ekonomi jatuh merosot dengan janda beranak yatim yang semakin banyak.
    Untuk menghindarinya hanyalah melaksanakan maksud QS.4;3 yang
    memerintahkan lelaki yang berkesanggupan untuk menikahi janda beranak yatim, dua, tiga sampai empat orang.

    QS. 4;127 ; Mereka menanyai engkau tentang perempuan, katakanlah ; “ALLAH menerangkan padamu tentang mereka, begitupun yang dianalisakan atasmu dalam Kitab tentang perempuan beranak yatim yang tidak kamu beri apa yang diwajibkan untuk mereka sedangkan kamu rindu menikahinya, juga yang tertindas dari anak-anak. Agar kamu berdiri untuk anak-anak yatim secara efektif. Apapun yang kamu lakukan dari kebaikan maka ALLAH mengetahui-NYA.

    QS. 4;127 secara nyata memperlihatkan kehendak berpoligami dalam
    masyarakat, tetapi salurkanlah kehendak itu dengan maksud QS. 4;3
    yaitu menikahi janda beranak yatim saja terhadap siapa sikap efektif
    harus dilaksanakan, maka janganlah kehendak poligami itu ditujukan
    kepada perempuan cantik menurut kehendak syahwat yang akibatnya
    menambah jumlah anak yatim yang tidak terurus

    Demikian semoga dipahami.

    Salam, Jagona

  27. ALVIAN Says:

    Pertama tama saya sangat berterima kasih kepada cak bram (pemilik blog ini) karna telah menjadi wasilah dalam memahami berbagai prespektif keislaman khususnya terkait tentang poligami.dari semua komentar yang ada jelaslah sudah bahwa apa yang kita fahami tentang islam adalah sejauh kemauan, kemampuan serta usaha kita dalam memahami dan merasakannya. ibarat sebuah gunung maka kita akan menyimpulkan gunung tersebut berlandaskan dimana kita sedang berpijak, jika kita bergerak lurus maka kita semakin dekat ke gunung itu dan lebih detil apa yang kita dapat, akan tetapi hanya dari satu arah yaitu sisi dimana kita bergerak, padahal betapa banyak sisi lain yang tak tercover oleh kita, selain itu masih ada lagi yaitu apa yang terdapat dan terkandung dalam inti gunung…! subhanallah ,,,
    oleh karena itu semoga apa yang kita ketahui mampu dan dapat saling melengkapi dalam meraih hidayah. di atas langit masih ada langit….oleh karena itu Allah berfirman dalam surat Al-Mujadila 58:11
    (Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan) semoga ilmu-ilmu dan pengetahuan yang di anugerahkan pada kita mampu menjadi wasilah mencerahkan hati kita dan menampung cahaya hidayah-Nya amiin….
    salam tholabul ‘ilmi tuk semua pembaca tanpa terkecuali.

  28. Benny Says:

    Assalamualaikum warokhmatullahi wabarokaatuh.

    Saya membaca sampai habis isi artikel ini, baik dari isi sampai komentar yang sangat beragam, secara pribadi saya merupakan penentang Poligami yang banyak dianut kaum laki-laki pada ZAMAN SEKARANG, jujur saya tidak terlalu menguasai ilmu agama tapi saya selaku suka mencari tahu apa yang menjadi rasa penasaran saya dan berkaitan dengan poligami saya pikir Abang Sirbram pasti lebih banyak mengetahui dan memahami ilmu-ilmu terkait hal tersebut tentunya dengan landasan Al-Qur’an dab Hadits tapi kembali lagi saya secara pribadi masih kurang puas dengan apa-apa yang sudah diterangkan dan dijawab diatas karena dari awal sampai akhir saya hanya menangkap pembahasan terkait “Legalitas pemuasan hawa nafsu laki-laki” dan alhamdulillah pada komen terakhir dari Kang Ade memberikan saya pencerahan, sebagai laki-laki yang normal memang saya akui bahwa nafsu laki-laki sangat besar bahkan melimpah tapi tidak sampai menyebabkan saya kehilangan kewarasan atau berpikir untuk memuaskan nya melalui hubungan sexual semata, saya pikir masih banyak hal yang bisa dilakukan didunia ini, hidup bukan hanya untuk melakukan hubungan sexual saja….
    Pendapat saya tersebut hanya pendapat personal saya yang miris melihat Perbuatan Poligami yang dilakukan Laki-laki muslim diluar sana pada ZAMAN SEKARANG dengan mengatas namakan Agama dan saya pikir mereka tidak paham dengan Agama tanpa bermaksud untuk tidak percaya dengan Sunnah Nabi(Asli), dan lagi ZAMAN SEKARANG kita sudah terlibat PERANG FISIK seperti yang terjadi pada ZAMAN NABI, jadi sangat MUNAFIK ketika kita berlaku yang demikian terhadap Perempuan.
    Demikian Pendapat saya semoga saya diberikan kekuatan oleh ALLAH SWT untuk bertahan pada satu pasangan…AAmiin..

    NB : Demi ALLAH saya akan melakukan hal yang sama seperti Bang Sirbram pada ORANG DENGAN AKUN ARIEL DIATAS.

    Salam,

    BenSap


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: