Meneladani Para Tokoh-tokoh Yang Dipenjara

 

Penjara selalu menjadi alat para penguasa untuk mengancam para pejuang dan para tokoh perjuangan Islam. Maka melalui uraian berikut ini, para pejuang Islam mendapat teladan yang baik dalam menyikapi hukuman penjara dari para penguasa. Tentu yang dimaksud para tokoh di sini ialah para Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang sepantasnya mereka itu kita teladani perjuangannya karena keikhlasan mereka dalam menta’ati Syari’at Allah serta mengikuti petunjuk dan bimbingan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kalau ada dari pembaca yang bertanya, mengapa yang dipilih hanya tokoh-tokoh yang dipenjara, bukankah tokoh-tokoh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu banyak pula yang tidak dipenjara ? Jawabannya ialah, bahwa tulisan ini kami suguhkan kepada pembaca yang budiman adalah dalam rangka membantah pikiran sebagian orang yang menyatakan bahwa dipenjara dalam perjuangan itu adalah mafsadah (kerusakan) yang harus dihindari. Pikiran tersebut menyatakan, bahwa bila suatu perjuangan itu diperhitungkan akan menghadapi resiko dipenjara, maka perjuangan itu harus ditinggalkan. Bahkan suatu tindakan perjuangan yang berakibat dipenjaranya sang pejuang, maka tindakan tersebut dinilai salah. Tentu pikiran tersebut amat picik dan tidak pantas untuk mengatas namakan dirinya sebagai pikiran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang agung. Karena, betapa banyaknya para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang masuk penjara disebabkan oleh perjuangannya membela Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Dan hal itu bukanlah mafsadah dalam perjuangan, bahkan yang demikian itu adalah resiko perjuangan para Nabi dan Rasul ‘alaihimus shalaatu wassalam. Ingatlah kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, ketika beliau diancam oleh istri pejabat Mesir akan dipenjarakan bila tidak mau menuruti kemauan syahwatnya, maka beliau menyatakan bahwa penjara lebih beliau sukai. Camkan kisah yang ada di dalam Al Qur’an S. Yusuf 32 – 35 berikut ini : “(artinya)Berkata istri pejabat itu : Demikian itulah sesungguhnya pria yang kalian mencela aku tentangnya, dan sesungguhnya aku berusaha untuk merayunya untuk bangkit syahwatnya. Tetapi dia menolak rayuanku. Dan sungguh, seandainya dia tetap menolak ajakanku untuk berzina, niscaya aku akan memenjarakannya, sehingga dia menjadi orang yang hina. Berkatalah Yusuf : Wahai Tuhanku, penjara itu lebih aku senangi daripada apa yang mereka serukan aku kepadanya (yakni daripada berzina –pent). Kalau Engkau tidak memalingkan aku dari rayuan mereka, niscaya aku akan cenderung kepada kemauan mereka, sehingga aku menjadi orang yang jahil. Maka Tuhanpun memenuhi permohonannya, sehingga diselamatkanlah dia dari rayuan mereka. Sesungguhnya Dia itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kemudian mencuatlah ide pada mereka para pejabat Mesir itu untuk memenjarakannya setelah mereka melihat beberapa bukti bahwa Yusuf tidak bersalah, sehingga merekapun memenjarakannya untuk beberapa saat, agar rakyat melupakan kejadian itu”. S. Yusuf 32 – 35. Maka resiko penjara bukanlah suatu mafsadah yang harus dihindari bagi para pejuang, bila perjuangan itu memang harus ditempuh dalam menentang kemungkaran yang telah terjadi atau yang akan terjadi agar kemungkaran itu tidak berkelanjutan atau agar kemungkaran itu tidak sempat terjadi. Itulah sebabnya kami bawakan kisah-kisah perjuangan para tokoh yang dipenjara untuk menjadi teladan bagi para pejuang Islam ketika menghadapi resiko masuk penjara dalam perjuangannya atau ketika menghadapi ancaman masuk penjara karena perjuangannya. Semoga uraian ini merubah image yang salah tentang prinsip-prinsip perjuangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. 1. Jundub bin Ka’ab Al Azadiy Al Ghamidiy Beliau adalah salah seorang Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam waradhiyallahu ‘anhu. Terkenal dalam biografinya dengan gelar Jundub Qaatilussaahir (Jundub si pembunuh tukang sihir), karena beliau terlibat pada peristiwa pembunuhan tukang sihir di zaman pemerintahan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Kisahnya perjuangan beliau diriwayatkan dalam beberapa kitab hadits, dan beberapa kitab biografi para perawi hadits. Dari beberapa riwayat tersebut adalah sebagai berikut : Kufah adalah salah satu kota besar dari negeri Iraq . Di sana ada seorang gubernur yang diangkat oleh Amirul Mu’minin Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, bernama Al Walied bin Uqbah bin Abi Mu’ieth (semoga Allah meridhainya dalam amalan shalehnya dan semoga Allah memaafkannya atas segala kekhilafannya). Di suatu hari sang gubernur melakukan kekhilafan di hadapan rakyatnya. Yaitu membiarkan seorang tukang sihir memainkan atraksi sihirnya di istana gubernuran di Kufah di hadapan para tamu tuan gubernur. Tukang sihir itu bernama Abul Bustan, yang memenggal kepala seorang pria sehingga terpisah kepalanya dari badannya. Setelah itu kepala orang tersebut ditempelkan kembala ke lehernya dan orang itu hidup seperti sedia kala. Melihat kejadian itu, para penontonpun terkagum-kagum sambil mengucapkan kata-kata : Subhanallah, dia bisa menghidupkan orang yang telah mati ?! Pada waktu itu Jundub sempat menyaksikan, betapa kaum Muslimin terkagum-kagum dengan kemahiran si tukang sihir tersebut. Bahkan dipertontonkan pula di hadapan mereka, bahwa Abul Bustan si tukang sihir tersebut masuk ke mulut keledai dan keluar dari lubang anus keledai itu. Jundub amat resah dengan tontonan yang amat merusakkan aqidah kaum Muslimin itu. Dan ternyata tidak hanya Jundub yang resah dengan atraksi tukang sihir tersebut. Beberapa orang dari kaum Muslimin, ternyata satu perasaan dengannya dalam perkara tontonan itu. Maka Jundub pun cepat bertindak untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari pengaruh jahat tontonan tersebut terhadap aqidah mereka. Dia segera mendatangi pandai besi dan mengambil pedangnya yang sedang dipertajam padanya. Setelah membayar ongkos perawatan pedang padanya, segera dia bersama teman-temannya mendatangi istana gubernuran. Kelompok Muslimin yang dikomandani oleh Jundab ini semula menyangka bahwa tukang sihir itu beratraksi di ruang tengah istana. Tetapi sesampainya mereka di sana didapati ternyata tidak terdapat seorangpun. Sehingga Jundab memerintahkan kelompoknya untuk segera menuju bagian bawah istana dan memang di sana mereka dapati gubernur Al Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith bersama teman-temannya sedang menyaksikan atraksi sihir tersebut. Jundub dan rombongannya tidak banyak bicara lagi, langsung menyerang si tukang sihir itu dan Jundub mengangkat pedangnya dan menebas leher si tukang sihir itu sehingga putus kepalanya dan tewas seketika di depan halayak ramai. Jundub menyatakan kepada tukang sihir yang celaka itu setelah memenggalnya : “Kalau engkau memang mampu menghidupkan orang yang telah mati, silakan engkau hidupkan dirimu sendiri sekarang juga !” dan Jundub setelah itu membaca ayat Al Qur’an S. Al Anbiya’ 3 : “Apakah kalian menerima sihir itu, padahal kalian menyaksikannya ?”. Teman-teman tuan gubernur melihat kejadian itu, langsung bubar dari majlisnya dan berlarian meninggalkan istana. Kaum Muslimin yang menonton peristiwa tersebut segera tersadar bahwa mereka sesungguhnya telah ditipu oleh si tukang sihir itu. Karena buktinya dia sekarang tidak bisa menghidupkan dirinya setelah dipenggal kepalanya oleh Jundub bin Ka’ab. Tetapi tuan gubernur Al Walid bin Uqbah marah besar dengan kejadian tersebut dan memerintahkan kepada Abdur Rahman bin Hubaisy Al Asadi sebagai kepala kepolisian daerah, untuk menangkap Jundub bin Ka’ab dan kelompoknya serta memenjarakannya. Perintah segera dilaksanakannya dan Jundub pun bersama kelompoknya meringkuk di penjara setelah itu. Tetapi mereka bernasib baik, kepala sipir penjara adalah seorang ahli ibadah yang shaleh yang terkenal namanya Dinar Abu Sinan. Maka Jundub menyatakan kepadanya : “Engkau tahu, kami masuk penjara karena membunuh tukang sihir itu. Oleh karena itu, lepaskanlah salah seorang dari kami untuk berangkat ke Al Madinah guna melaporkan kejadian ini kepada Utsman”. Maka dilepaskanlah salah seorang dari mereka dan segera berangkat menuju Madinah untuk menemui Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Gubernur Al Walid pun mendengar tindakan Abu Sinan yang membebaskan salah seorang tahanan itu. Sehingga ditangkaplah kepala sipir penjara itu dan diikat di tiang salib untuk dibunuh. Tetapi segera laporan telah sampai kepada Khalifah Utsman sehingga beliau segera mengirim surat kepada gubernur Al Walid untuk membebaskan seluruh tahanan yang terlibat dalam kasus pembunuhan tukang sihir. Tentunya tuan gubernur segera membebaskan mereka dan juga membebaskan Abu Sinan kepala sipir penjara yang hampir saja mati di tiang salib, serta mengembalikannya pada posisi jabatannya sebagai kepala sipir penjara. Karena memang dalam Syari’ah Islamiyah, hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal kepalanya, sehingga mati ilmu sihirnya dan tidak sempat diwariskan kepada yang lainnya. Demikianlah, kejadian yang dialami oleh Shahabat Nabi yang bernama Jundub bin Ka’ab Al Azadiy Al Ghamidiy beserta kawan-kawan yang melakukan gerakan nahi munkar (yakni mencegah kemungkaran) yang beresiko masuk penjara. Tetapi semua itu dijalaninya, dan mereka tidak memandang penjara sebagai mafsadah bila resiko gerakan mereka ialah harus masuk padanya. Kisah tersebut disari patikan dari beberapa kitab rujukan sebagai berikut : a. Al Isti’ab Fi Ma’rifatil Ashab, karya Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Bar An Namiri Al Qurtubi, tahqiq Ali Muhammad Al Bajaawi, jilid 1 hal. 258 riwayat ke 343, Darul Jail-Beirut, cet. Pertama th. 1412 H/1992M. b. Al Mushannaf, Al Hafidl Abu Baker Abdur Razzaq bin Hammam Ash Shan’ani, tahqiq Habibur Rahman Al A’dhami, jilid 10 hal. 181 riwayat ke 18748, Al Majlisul Ilmi, tanpa tahun. c. Al Mu’jamul Kabir, Al Imam Al Hafidl Abil Qasim Sulaiman bin Ahmad At Thabrani, tahqiq Hamdi Abd. Majid As Silafi, jilid 2 hal.177 riwayat 1725, Dru Ihya’ At Turats Al Arabi, cet. ke dua. d. As Sunanul Kubra, Al Imam Abi Baker Ahmad bin Al Husain bin Ali A l Baihaqi, jilid 8 hal. 136, Darul Fiker – Beirut , tanpa tahun. e. Kitabut Tarikh Al Kabir, Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, jilid 2 hal. 222 riwayat 2268, Darul Fiker – Beirut , tanpa tahun. f. Usdul Ghabah Fi Ma’rifatis Shahabah, Izzuddin bin Al Atsir Abil Hasan Ali bin Muhammad Al Jazari, jilid 1 hal. 361 riwayat ke 806, Darul Fiker – Beirut , cet. th. 1409H/1989M. g. Tahdzibul Kamal Fi Asma’ir Rijal, Al Hafidl Jamluddin Abil Hajjaj Yusuf Al Mizzi, jilid 5 hal. 141 riwayat ke 975, Mu’assasatur Risalah Beirut, cet. 5 th. 1415H/1994M. h. Al Ishabah Fi Tamyizis Shahabah, Al Hafidl Abil Fadl Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalani, jilid 1 hal. 250 riwayat ke 1227, Daru Shadir Beirut, cet. pertama th. 1328 H. 2. Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy Syaibani Dari para khalifah (kepala negara) dinasti Bani Abbasiyah, khalifah yang paling hitam sejarah masa pemerintahannya ialah khalifah Al Ma’mun bin Harun Ar Rasyid (putra khalifah Harun Ar Rasyid). Karena para Khalifah sebelum Al Ma’mun terjatuh dalam berbagai kesalahan dalam perkara hak rakyatnya, tetapi Al Ma’mun terjatuh dalam berbagai kesalahan yang menyangkut haknya Allah Ta’ala dan RasulNya dalam perkara agamaNya, disamping tentunya kesalahan dia dalam perkara yang menyangkut hak rakyatnya. Khalifah Al Ma’mun dibai’at sebagai Khalifah Abbasiyah pada awal tahun 198 H setelah berhasil memimpin pemberontakan melawan kakak kandungnya yang bernama Al Amin bin Harun Ar Rasyid yang berhasil dibunuh oleh Thahir bin Al Husain Abu Thalhah Al Khuza’ie (komandan tentaranya Al Ma’mun). Khalifah Al Ma’mun adalah seorang penguasa yang fasih berbahasa Arab dan luas pengetahuan agamanya senang membaca Al Qur’an dan menghatamkannya. Dia juga adalah penguasa yang suka memberi kepada siapa saja yang datang meminta sesuatu keperluan. Dan tentunya dia adalah seorang kepala negara yang terjun ke medan jihad fi sabilillah memimpin sendiri pasukannya di perbatasan negara. Tetapi kelemahan yang fatal padanya ialah kesenangannya duduk bercengkrama dengan para ahli ilmu kalam yang membahas pengertian agama dengan kaidah-kaidah filsafat. Dengan kesenangannya demikian itu, berubahlah majlisnya Khalifah Al Ma’mun, yang semula dipenuhi dengan pembicaraan tentang hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam lengkap dengan sanadnya, maka kini majlisnya tidak lagi berbicara tentang hadits tetapi telah dipenuhi dengan penampilan para ahli debat dan pembicaraan tentang berbagai kaidah-kaidah logika. Bahkan Al Ma’mun memerintahkan agar kitab-kitab filsafat Yunani di pulau Siprus dikeluarkan daripadanya dan dibawa ke Baghdad untuk diterjemahkan dalam bahasa Arab. Maka mulailah mala petaka terjadi terhadap kaum Muslimin, ketika pada tahun 212 H Al Ma’mun sebagai penguasa memaksakan pandangannya yang sesat kepada segenap kaum Muslimin tentang Al Qur’an. Kesesatannya ialah ketika dia menyatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Mu’tazilah. Sedangkan yang diyakini oleh kaum Muslimin sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits, bahwa Al Quran adalah Kalamullah (yakni omongan Allah Ta’ala) dan bukan makhluq. Karena Allah Ta’ala telah menamakan Al Qur’an sebagai Kalamullah dalam firmanNya di S. At Taubah 6 : “Dan bila salah seorang dari kaum Musyrikin minta perlindungan keamanan kepadamu (hai Muhammad), maka lindungilah ia sehingga dia dapat mendengar ‘Kalamullah’ (yakni mendengar ayat-ayat Al Qur’an)”. Sedangkan Kalamullah itu dengan tegas tidak dikatagorikan oleh Allah sebagai makhluqNya. Ini ditegaskan olehNya dalam firmanNya di S. Al A’raf 54 : “Bukankah bagi Allah itu al khalqu (menciptakan makhluqNya) dan Al Amru (yaitu Kalamullah yang berbunyi Kun /jadilah ketika hendak menciptakan makhluqNya, sehingga jadilah makhluq itu dengan perintahNya tersebut)”. Jadi di ayat ini Kalamullah bukanlah dalam katagori al khalqu , tetapi dalam katagori Al Amru . Yang berarti dengan tegas Kalamullah itu bukanlah makhluq. Bahkan Allah Ta’ala telah mengkafirkan Al Walid bin Al Mughirah, ketika dia mengatakan bahwa Al Qur’an itu adalah omongan manusia atau omongan makhluq dan bukan omongan manusia. Hal ini dinyatakan olehNya dalam S. Al Muddatstsir 16 – 26 : “(artinya) Tidak, sekali-kali tidakakan Aku tambah kenikmatanKu kepadanya, karena dia itu telah ingkar terhadap ayat-ayat Kami. Sungguh Aku akan membebani dia dengan adzab yang amat berat di neraka. Karena dia berfikir dan menentukan satu keputusan. Maka dia terkutuk dengan dia membikin keputusan itu. Kemudian terkutuk pula bagaimana dia membikin keputusan itu. Kemudian dia berpikir bagaimana dia menolak kebenaran Al Qur’an. Dia berpikir dengan muka masam dan dahi berkerut. Kemudian dia berpaling dari kewajiban beriman kepada Al Qur’an itu dan dia menolak kebenaran dengan sombong. Kemudian akhirnya dia menyatakan : Al Qur’an ini adalah sihir yang kuat pengaruhnya. Al Qur’an ini tidak lain adalah omongan manusia. Sungguh dengan pernyataannya ini, Aku akan lemparkan dia ke neraka Saqor”. Keyakinan kaum Muslimin seperti ini dikesampingkan begitu saja oleh Al Makmun karena pengaruh ilmu kalam dan filsafat padanya. Sehingga dia memerintahkan kepada segenap pejabat negara di seluruh wilayah negara, untuk melarang qadli atau khatib dan imam masjid serta para Ulama’ berbicara tentang agama bila mereka menolak keyakinan bahwa Al Qur’an itu makhluq. Yang boleh menduduki jabatan qadli atau mufti atau khatib dan imam masjid, hanyalah mereka yang meyakini Al Qur’an itu makhluq. Bahkan lebih dari itu, dia memerintahkan para pejabatnya untuk menyeret para Ulama’ ke tangsi-tangsi militer, guna ditanyai satu persatu pendapatnya tentang apakah Al Qur’an itu makhluq atau bukan. Al Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Thabari meriwayatkan dalam Tarikhnya (jilid 8 hal. 631) bahwa Khalifah Al Ma’mun mengirim surat ke wali negeri Iraq bernama Ishaq bin Ibrahim. Dalam surat itu Khalifah memerintahkan kepadanya untuk seluruh Ulama’ ke tangsi militer bernama Ar Riqqah dan membacakan kepada mereka surat Khalifah ini yang berisi penjelasan darinya tentang dalil-dalil keyakinannya bahwa Al Qur’an itu adalah makhluq, lengkap dengan alasan keputusannya untuk menganggap para Ulama’ yang menolak keyakinan ini adalah sesat dan musyrik yang harus dihukum dengan hukuman seberat-beratnya. Surat tersebut dimuat dengan lengkap oleh Al Imam At Thabari dalam tarikhnya (jilid 8 hal. 631 – 637), yang menunjukkan dalam suratnya itu betapa besar pengaruh ilmu kalam dan filsafat pada diri Khalifah Al Ma’mun. Dalam suratnya itu dia menyebutkan secara khusus tujuh nama dari para Ulama’ yang harus dipanggil ke Ar Riqqah untuk dipaksa menyatakan bahwa Al Qur’an itu adalah makhluq. Tujuh orang itu ialah : Muhammad bin Sa’ad asisten Al imam Al Waqidi, Abu Muslim asisten Imam Yazid bin Harun, Yahya bin Ma’ien, Zuhair bin Harb Abu Khaitsamah, Ismail bin Dawud, Ahmad bin Ad Dauraqi. Dan mereka bertujuh itu akhirnya menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq, dan segera mereka dibawa ke Baghdad untuk menyatakan demikian dihadapan khalayak ramai dan setelah itu segera mereka dibebaskan semua dari tahanan. Yahya bin Ma’ien menjelaskan mengapa ikut menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq : “Kami takut dari ancaman pedang, sehingga kami menyatakan demikian”. (Siar A’lamin Nubala’, Adz Dzahabi, jilid 10 hal. 288). Dengan berhasil mendapat jawaban dari ketujuh Ulama’ seperti itu, Al Ma’mun semakin bersemangat untuk memaksakan pendapatnya yang sesat itu, dan dia selanjutnya memerintahkan Ishaq bin Ibrahim untuk memanggil Ulama’ lainnya lebih banyak lagi. Dipanggillah ke Ar Riqqah para Ulama dan Qadli, para Ahli Hadits, para Fuqohaa’ (yakni para ahli fiqih) serta Imam-Imam Masjid. Untuk gelombang kedua ini yang dipanggil dan diinterogasi adalah : Abu Hassan Az Zayyadi, Bisyir bin Al Walid Al Kindi, Ali bin Abi Muqathil, Al Fadhel bin Ghanim, Adz Dzayyal bin Al Haitsam, Sajjaadah, Al Qawaariiriy, Al Imam Ahmad bin Hanbal, Quthaibah, Sa’daweih Al Waashitiy, Ali bin Al Ja’di, Ishaq bin Abi Isra’iel, Ibnul Harsyi, Ibnu Ulayyah Al Akbar, Yahya bin Abdurrahman Al Umariy, juga Al Umariy Qadli negeri Ar Riqqah, Abu Naser At Tammar, Abu Ma’mar Al Qathi’ie, Muhammad bin Hatim bin Maimun, Muhammad bin Nuh, Ibnu Farrukhan, An Nadler bin Syumail, Ibnu Ali bin Ashim, Abul Awwam Al Bazzar, Ibnu Syuja’, Abdurrahman bin Ishaq. Semua mereka ketika dipaksa untuk menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq, menolak untuk menyatakannya. Kecuali beberapa orang berikut ini yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq; yaitu : Quthaibah, Ubaidillah bin Muhammad bin Al Hasan, Ibnu Ulayyah Al Akbar, Ibnul Bakka’, Abdul Mun’im bin Idris, Al Mudzaffar bin Murajja’, Al Umariy Qadli negeri Ar Riqqah, dan Ibnul Ahmar. Maka dengan penolakan para Ulama’ tersebut dan yang menerima dari mereka hanya delapan orang saja, Al Ma’mun mengirim surat kepada Ishaq bin Ibrahim, yang isinya memaki dan merendahkan seluruh Ulama’ yang menolak pendapatnya bahwa Al Qur’an itu makhluq. Bahkan dia menyatakan kemarahannya kepada mereka, dan menyatakan bahwa mereka yang menolak itu adalah orang-orang yang halal darahnya dan harus dipenggal bila tetap bersikeras dengan penolakannya. Maka ketika surat Al Ma’mun ini dibacakan kepada mereka para Ulama’ yang masih menolak pendapat Khalifah itu, akhirnya semua mereka mau menyatakan seperti yang diinginkan oleh Khalifah kecuali empat orang; yaitu : Imam Ahmad bin Hanbal, Sajjadah, Al Qawaariiriy, dan Muhammad bin Nuh. Keempat Ulama’ tersebut akhirnya diborgol dengan rantai besi pada kaki dan tangannya di masukkan ke sel yang sempit. Setelah menginap di sel tahanan dengan keadaan demikian, akhirnya dua orang dari padanya mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq, dan keduanya segera dibebaskan. Kedua orang yang menyatakan demikian itu adalah : Sajjadah dan Al Qawaariiriy. Adapun dua orang yang tetap bertahan dengan pendiriannya bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluq, adalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh. Maka kedua orang inipun rencananya akan dibawa ke kam militer tentara di negeri Tharsus untuk dipertemukan dengan Khalifah Al Ma’mun di sana karena Khalifah sedang memimpin tentara Islam guna berjihad fi sabilillah menghadapi pasukan Romawi. Kedua orang tersebut sudah membayangkan betapa Al Ma’mun akan membunuh keduanya dan itu sebagai resiko perjuangan di atas kebenaran. Tetapi Allah Ta’ala menentukan apa yang dikehendakiNya. Dalam suasana bayangan kengerian demikian itu, tiba-tiba datang berita bahwa Khalifah Al Ma’mun wafat di desa perbatasan yang bernama Badzandun (dan dikuburkan di kota Tharsus) dalam usia 48 tahun yang memerintah selama dua puluh tahun lebih. Negara dipimpin setelah itu oleh adik kandung Al Ma’mun yaitu Abu Ishaq Muhammad bin Harun Ar Rasyid yang bergelar Al Mu’tashim Billah setelah diba’at sebagai Khalifah (kepala negara). Tetapi keadaan tidak menjadi lebih baik, bahkan fitnah yang ditinggalkan oleh Al Ma’mun terus berkelanjutan selama masa kekuasaan Al Mu’tashim yang berlangsung selama empat belas tahun. Al Mu’tashim melanjutkan sikap keagamaan pendahulunya yang sangat memusuhi para Ulama’ Ahlis Sunnah Wal Jama’ah serta sangat memulyakan para ahli debat dari kalangan mutakallimin (yakni para ahli ilmu kalam). Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh, tetap saja meringkuk di penjara, tetapi setelah matinya Al Ma’mun keduanya dipindah ke penjara kota Baghdad dari penjara Ar Riqqah. Dalam perjalanan dari Ar Riqqah ke Baghdad itu, Muhammad bin Nuh jatuh sakit dan kemudian wafat di kota ‘Aanah. Muhammad bin Nuh sebelum menghembuskan nafas terkhirnya sempat berwasiat kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Wahai Abu Abdillah, Allah yang membantumu dan Allah yang membantumu. Engkau tidaklah seperti aku. Karena engkau adalah orang yang diikuti banyak orang. Semua orang sedang menumpahkan perhatian mereka kepadamu, apa yang hendak kau lakukan. Oleh karena itu, takut kamu kepada Allah dan tetaplah kamu kokoh dengan pendirianmu karena perintah Allah”. Kemudian setelah itu dia wafat, Imam Ahmad yang merawat jenazahnya dan meshalatinya serta dikuburkan di kota Aanah itu. Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan : “Aku tidak melihat orang yang lurus dalam memegang agama Allah seperti Muhammad bin Nuh, meskipun umurnya yang masih muda dan ilmunya yang terbatas. Semoga dia mengakhiri hidupnya dengan baik”. (Siar A’lamin Nubala’ , Adz Dzahabi, jilid 11 hal. 242). Imam Shaleh putra Imam Ahmad bin Hanbal menceritakan : “Ayahku tinggal di penjara sejak beliau ditangkap sampai dibebaskan daripadanya selama dua puluh delapan bulan. Sungguh telah menceritakan kepadaku salah seorang yang sama-sama dipenjara dengan ayahku : Wahai anak saudaraku, semoga rahmat Allah tercurah atas Aba Abdillah (yakni Imam Ahmad bin Hanbal). Demi Allah aku tidak melihat seorangpun seperti beliau. Sungguh aku pernah mengatakan kepadanya ketika dihidangkan makanan kepada kami para tahanan : Wahai Aba Abdillah, apakah engkau tetap berpuasa padahal engkau dalam keadaan terpaksa ? waktu itu beliau dalam keadaan sangat haus, maka beliau mengatakan kepada sipir penjara yang menyediakan minum : Sediakanlah untukku minuman. Maka disediakanlah kepada beliau cawan yang berisi air putih serta es. Kemudian cawan itupun diambilnya dan dilihatnya, setelah itu dikembalikannya dan tidak diminum. Aku sungguh amat kagum dengan kesabarannya dalam menahan lapar dan dahaga, padahal beliau dalam keadaan sangat menderita”. (Siar A’lamin Nubala’, Adz Dzahabi, jilid 11 hal. 252 –253). Hilal bin Al ‘ Ala ‘ Ar Raqiy menyatakan : “Allah telah menganugerahkan kepada ummat ini empat orang di zaman mereka; yaitu : 1. Ahmad bin Hanbal, yang tetap kokoh pendiriannya di atas kebenaran di masa malapetaka itu, seandainya beliau tidak tetap pada pendiriannya, niscaya kaum Muslimin akan kafir karenanya. 2. Imam As Syafi’ie, yang mempelajari dan memahami hadits-hadits Rasulillah sallallahu alaihi wa sallam. 3. Yahya bin Ma’ien, yang menolak segala kedustaan tentang hadits Rasulillah sallallahu alaihi wa sallam. 4. Abu ‘Ubaid Al Qasim bin Sallam, yang menafsirkan kata-kata sulit dimengerti dari hadits-hadits Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Kalaulah seandainya beliau, niscaya banyak orang terjatuh dalam kesalahan”. (Tahdzibul Kamal, Al Mizzie, jilid 1 hal. 463). Dan masih banyak lagi cerita penderitaan Imam Ahmad bin Hanbal semasa beliau di penjara. Disamping cerita disiksanya beliau di depan Khalifah Al Mu’tashim sampai pingsan berkali-kali karena beratnya penyiksaan dan beliau tetap kokoh pada pendiriannya dalam berpegang dengan kebenaran. Bahkan beliau dalam keadaan disiksa itu sempat pula dengan tegar membantah secara ilmiyah segala dalil orang-orang sesat itu yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu adalah makhluq. Demikianlah kisah penderitaan Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang tetap berpegang dengan kebenaran dan tidak mau bergeser sedikitpun daripadanya, walaupun harus menghadapi resiko dipenjara, disiksa padanya dan kalau perlu sampai mati sekalipun. Wahai para pejuang di jalan Allah dan RasulNya, penjara serta penyiksaan yang ada padanya bukanlah ancaman yang harus ditakutkan. Semua itu adalah resiko perjuangan yang harus dihadapi !!! Kisah perjuangan Imam Ahmad bin Hanbal ini saya ringkaskan dari kitab-kitab berikut : a. Tarikh At Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Thabari, jilid 8 hal. 631 – 650, Rawa’i’ At Turats Al Arabi, Beirut – Libanon, tanpa tahun. b. Siar A’lamin Nubala’, Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz Dzahabi, Muassasatur Risalah, Beirut – Libanon, cet. th. 1417 H / 1996 M. c. Tahdzibul Kamal Fi Asma’ir Rijal, Al Hafidl Al Mutqin Jamaluddin Abil Hajjaj Yusuf Al Mizzi, jilid 1 hal. 437 – 470, Mu’assasatur Risalah, Beirut – Libanon, cet. th. 1415 H / 1994 M. 3. Tokoh-tokoh Yang Lainnya Masih banyak deretan nama tokoh-tokoh lainnya dari para Imam Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang telah menggoreskan tinta sejarah perjuangan da’wah Ahlis Sunnah Wal Jama’ah dari masa ke masa dengan resiko masuk penjara dengan berbagai penderitaan yang ada padanya. Kita ingat derita Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau Ibnu Qayyim Al Jauziyah yang dipenjara oleh penguasa Muslimin di negeri Syam. Ibnu Taimiyah akhirnya meninggal dunia di penjara Damaskus – Syam, pada tanggal 22 Dzul Qi’dah 728 H. Juga telah ditangkap dan diseret di depan algojo dan mati di hadapan algojo itu Syeikh Sulaiman bin Muhammad bin Abdul Wahhab (putra Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab), karena dilaporkan oleh sebagian munafiqin kepada Ibrahim Pasya bin Muhammad Ali Pasya, penguasa negeri Ad Dir’iyyah, sehingga dia memerintahkan untuk menangkap Syeikh Sulaiman dan menghabisinya pada th. 1233 H. Juga guruku dan pembimbingku Al Allamah Asy Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie, mengalami pahit getirnya kehidupan di penjara. Ketika beliau dituduh dengan tuduhan dusta, bahwa beliau dianggap memberi dukungan kepada pemberontakan Juhaiman dan Muhammad bin Abdullah Al Qahthani pada th. 1979 M di Makkatul Mukarramah terhadap pemerintah Al Su’ud. Padahal sebagaimana yang beliau ceritakan kepada kami, Juhaiman sempat dinasehati oleh beliau untuk jangan memberontak kepada pemerintah Islam yang dipimpin oleh Al Su’ud di Saudi Arabia , karena perbuatan demikian ini adalah bid’ah. Tetapi fitnah menghempaskan beliau ke penjara selama empat bulan dengan tuduhan itu dan akhirnya beliau diusir dari Madinah untuk kembali kenegeri Yaman karenanya dengan derai air mata kesedihan. Rahimahumullahu jami’an wajazahumullahu ‘anna wa ‘anil Muslimiina jamii’an. Meskipun para Ulama’ Ahlus Sunnah itu dipenjara, disiksa dan dirampas hak-haknya dengan cara yang dzalim, bahkan dibunuh oleh para penguasa itu. Namun mereka tetap saja menasehati segenap kaum Muslimin untuk bersabar dengan berbagai kedzaliman para penguasa Muslimin itu dan melarang dengan keras mereka memberontak kepada penguasa tersebut. Ini tidak lain, karena tegarnya mereka dalam berpegang dengan prinsip Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang menentang sikap memberontak kepada penguasanya dalam keadaan senang kepada penguasa itu atau dalam keadaan membencinya. Duhai, betapa besar jasa baik yang mereka berikan kepada kaum Muslimin. Tetapi betapa jahatnya balasan orang-orang terhada mereka. P e n u t u p : Perjuangan tokoh-tokoh ahlul huda (yang mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala kepada jalan yang diridloiNya) semestinya dipelajari dan diteladani. Banyak sekali teladan kebaikan dan kemulyaan yang mereka tinggalkan bagi kita. Dalam hal perjuangan mereka, kita dapat mengambil teladan dalam perkara kesabaran mereka menghadapi berbagai ujian di jalan Allah Ta’ala. Mereka tetap istiqamah dalam keikhlasan untuk Allah semata segala langkah perjuangan mereka, walaupun menghadapi rayuan dan gertakan dari oarang-orang jahat atau orang-orang bodoh. Mereka tidak pernah surut langkah majunya dalam perjuangan menegakkan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah walau badai menghempas. Bahkan mereka tidak pernah tertegun berhenti dari perjuangan mereka menentang kekafiran, kemusyrikan, kebid’ahan, kedzaliman, kebodohan dan segala bentuk kemaksiyatan. Mereka tetap menginginkan kebaikan bagi ummatnya, walaupun ummatnya amat menyakitinya. Karena mereka tidak menginginkan apa-apa dari perjuangannya kecuali keridlo’an Allah dan pahalaNya di akherat kelak. Allah Ta’ala memulyakan mereka di dunia dan akherat dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah yang Dia anugerahkan kepada mereka. Segala upaya merendahkan dan menghinakan mereka amat gencar tak henti-hentinya siang dan malam. Tetapi semua itu digagalkan oleh Allah Ta’ala, karena Dia telah meridloi mereka dan memilih mereka sebagai hamba-hambaNya yang dicintaiNya .

 

Disalin dari http://alghuroba.org/penjara.php

Ditulis dalam Ibrah. Tag: , , . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: