‘Iedul Fitri; Hari Pengumuman Menang Kalahnya Peperangan


Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaaha illallahu Allahu akbar. Allahu akbar Walillahilhamd.

Kaum Muslimin yang saya cintai dan saya hormati, hari ini kita mengakhiri babak peperangan untuk menghadapi peperangan berikutnya. Peperangan melawan hawa nafsu selama bulan Ramadhan yang dinyatakan telah berakhir dengan terbitnya hilal tanggal 1 Syawwal 1428 di hari yang berbahagia ini. Peperangan tersebut sesungguhnya lebih banyak berupa latihan mencapai kemenangan, karena musuh kita yang paling berbahaya sedang dibelenggu selama bulan tersebut. Musuh-musuh berupa setan dari kalangan jin dibelenggu, walaupun setan dari kalangan manusia tidak dibelenggu. Karena itu, mestinya kaum Mu’minin dapat mencapai kemenangan dengan kondisi lawan yang demikian. Maka sewajarnya kalau kita merayakan hari ini sebagai hari kembali kepada fitrah kemanusiaan kita. Setelah sebulan penuh kita dilimpahi rahmat dan hidayah Allah dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Berbahagialah orang yang mengerti misi perjuangan ibadah puasa Ramadhan, sehingga dapat mencapai target perjuangannya dengan sepenuh hati. Yaitu target mencapai kepribadian taqwallah. Kami ucapkan selamat kepada kaum Muslimin yang mencapainya, semoga selamat dunia dan akherat dengan bekal taqwallah tersebut.

Allahu akbar, Allahu akbar. Lailahaillallahu Allahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Taqwallahu itu adalah satu kepribadian lengkap seorang Muslim yang dihiasi padanya tiga amalan utama, yaitu :

1. Ta’atullah, yakni keta’atan kepada Allah Ta’ala dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

2. Dzikrullah, yakni semangat selalu berdzikir kepada Allah yang mendominasi sisi-sisi kehidupannya di dunia ini.

3. Asy Syukru Lillah, yakni bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan nikmatNya yang tak terhingga berupa Islam, Iman serta Taufiq dan HidayahNya dilengkapi dengan kesempatan hidup di dunia untuk mencapai keberhasilan dunia dan akherat.

Kepribadian taqwallah inilah idaman dan cita-cita setiap Muslim pria dan wanita, dalam menjalani hidup di dunia untuk merasakan kelezatan iman dan manisnya hidup berislam. Hidup ideal seorang Muslim, dalam rahmat Allah dan kasihNya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha illallahu Allahu akbar, Allahu akbar Walillahilhamd.

Betapa indahnya hidup dalam kerangka taqwallah ini, bila kita mengerti segala keutamaan yang diberikan kepada hambaNya yang telah mencapai taqwallah itu. Dari berbagai ayat Al Qur’an yang memberitakan janji-janji Allah bagi hambaNya yang bertaqwa, dapat kita simpulkan sebagai berikut :

1. Kemulyaan yang tertinggi yang Allah berikan di dunia dan akherat ialah bagi hambaNya yang bertaqwa (lihat S. Al Hujurat 13).

2. Jaminan diterimanya amalan-amalan shalehnya oleh Allah Ta’ala (lihat S. Al Maidah 27).

3. Allah membimbing hambaNya yang bertaqwa kepada amalan yang terbaik dan mengampuni dosa-dosanya dalam segala kekurangannya (lihat S. Al Ahzab 70 – 71).

4. Allah mencintai hambaNya yang bertaqwa dan memberikan segala kemulyaan kepada hambaNya yang dicintaiNya (lihat S. Yunus 62 – 64).

5. Allah akan selalu memelihara orang-orang yang bertaqwa dari segala tipu daya para musuh-musuhNya (lihat S. Al Imran 120).

6. Allah memberikan kepada orang-orang yang bertaqwa, jaminan rizki dan jalan keluar yang terbaik dari segala problem (lihat S. At Thalaq 2 & 3).

7. Jaminan keselamatan dari api neraka di akherat bagi orang-orang yang bertaqwa (lihat S. Maryam 71 – 72).

8. Juga Allah memberikan jaminan surga dan kekal padanya bagi orang yang mati dalam keadaan bertaqwa (lihat S. Al Imran 133).

Betapa istimewanya, kedudukan orang-orang yang bertaqwa di sisi Allah. Betapa mesranya hubungan kasih sayang antara Allah dengan orang-orang yang bertaqwa. Betapa menggiurkannya kemulyaan dan berbagai keutamaan Allah bagi hambaNya yang bertaqwa. Berarti target pencapaian suatu perjuangan untuk mencapai ketaqwaan, adalah target perjuangan yang agung dan tak ada bandingannya dengan segala target perjuangan yang manapun.

Allahuakbar, Allahuakbar. Lailahaillallahu Allahuakbar. Allahuakbar walillahilhamd.

Kaum Muslimin yang saya cintai dan saya hormati. Melihat betapa agung target yang dicanangkan dalam perjuangan di bulan Ramadhan, maka berarti perjuangan di bulan Ramadhan adalah perjuangan yang amat agung sebagaimana keagungan target pencapaiannya. Perjuangan ini dalam rangka menciptakan mental pejuang, atau dengan istilah Syari’ah dinamakan mental mujahid. Allah menghendaki dengan Syari’ahNya untuk mendidik personil tentara Allah yang bermental agung, yang mampu menaklukkan berbagai kelemahan dirinya yang selalu merongrong langkah-langkah perjuangan di jalan Allah. Atau dengan singkat dapat dikatakan, bahwa puasa Ramadhan adalah sarana pendidikan mental mujahid. Karena itu perjuangan dalam rangka pendidikan mental seperti ini dinamakan “JIHADUN NAFS”, yakni jihad melawan kelemahan diri sendiri. Telah diterangkan oleh para Ulama’ bahwa kelemahan-kelemahan fatal manusia itu ada empat :

1. Kebodohan tentang agama Allah dan RasulNya. Maka untuk menghadapi kelemahan yang satu ini, harus diperjuangkan munculnya kemauan untuk menuntut ilmu agama tersebut dan kemudian tekun mempelajarinya dan istiqomah dalam mempelajarinya. Sehingga jihadun nafs dalam peringkat ini ialah upaya mempelajari agama Allah dan RasulNya.

2. Kemalasan untuk beramal dengan ilmu agama tersebut setelah mendapatkan ilmu itu. Maka untuk menghadapi kelemahan yang satu ini, harus diperjuangkan bangkitnya semangat untuk beramal dengan ilmu dan istiqomah dalam amalan itu. Sehingga jihadun nafs dalam peringkat ini adalah upaya beramal dengan ilmu dan menjaga semangat istiqomah dalam beramal itu.

3. Kecenderungan mementingkan diri sendiri dalam meraih kebahagiaan dunia dan akherat. Maka untuk menghadapi kelemahan ini, harus diperjuangkan bangkitnya tanggung jawab sosial dengan melancarkan amalan da’wah untuk mensosialisasikan ilmu dan mempelopori pengamalan ilmu itu di tengah masyarakatnya masing-masing. Sehingga jihadun nafs dalam peringkat ini ialah upaya melancarkan perjuangan da’wah kepada ilmu dan amal tersebut.

4. Kecenderungan tidak sabar dalam menghadapi aral melintang pahit getirnya perjalanan da’wah kepada ilmu dan amal itu. Juga semangat ingin cepat menuai hasil dalam perjuangannya. Maka untuk menghadapi kelemahan ini, harus dibangkitkan kesabaran dalam perjuangan di jalan Allah dan sabar tidak surut kebelakang dalam menghadapi aral melintang. Sehingga jihadun nafs dalam peringkat ini ialah upaya menumbuhkan mental kesabaran pada para pejuang da’wah ilallah.

Demikianlah “JIHADUN NAFS” yang sesungguhnya telah disediakan arenanya dalam setiap pengamalan kewajiban ibadah dalam Islam, khususnya pengamalan ibadah puasa dalam bulan Ramadhan. Bila segenap kewajiban dalam Syari’ah Islamiyah dijalani dengan baik, apalagi dilengkapi pula dengan amalan-amalan sunnahnya, tentu seorang Muslim akan memiliki kepribadian yang tangguh dalam menghadapi berbagai perubahan di dunia ini. Betapa mengagumkannya kepribadian seorang Muslim alumni madrasah “JIHADUN NAFS” tersebut. Kepribadian muttaqin dan mujahidin.

Allahu akbar, Allahu akbar. Lailahaillallah wallhu akbar. Allahu akbar walillahilhamd.

Kaum Muslimin yang saya cintai dan saya hormati, semua perjuangan yang kita upayakan tersebut adalah dalam rangka untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat dengan kebahagiaan yang Allah anugerahkan. Dan inilah sesungguhnya jalan untuk mencapai kebahagiaan haqiqi. Karena itu harus diperingatkan kepada segenap kaum Muslimin, agar menjaga baik-baik pada dirinya dan amalannya dua syarat diterimanya segenap amalannya oleh Allah Ta’ala. Yaitu :

1. Al Ihklas, yakni memurnikan niatnya dalam beramal untuk Allah semata dan tidak mengizinkan pada dirinya untuk munculnya niatan-niatan yang lainnya.

2. Al Ittiba’, yakni menjalankan segenap amalan itu dengan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Tidak mencampurinya dengan amalan-amalan bid’ah (yakni penyimpangan dari ajaran beliau).

Sebab amalan yang mengikuti tuntunan Nabi tetapi tidak ikhlas untuk Allah semata, maka amalan itu tertolak. Sebaliknya, bila amalan itu diikhlaskan untuk Allah semata tetapi tidak mengikuti tuntunan Nabi, juga tertolak. Jadi segala amalan itu harus dipancangkan padanya dua tonggak utama amalan yang diterima oleh Allah sebagaimana tersebut di atas. Jaga baik-baik amalan-amalan tersebut dengan selalu mengontrolnya dalam kerangka kedua tonggak amalan tersebut.

Allahu akbar, Allahu akbar. Lailahaillallahu Akbar. Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Demikianlah perjuangan inti kaum Muslimin. Yaitu perjuangan dalam bentuk pencerahan ilmu dan amal kaum Muslimin dengan agamanya. Dan perjuangan yang demikian inilah yang dinamakan gerakan At Tashfiyah Wat Tarbiyah (yakni gerakan pemurnian dan pendidikan). Hanya dengan cara dan jalan inilah Ummat Islam dapat mengentaskan dirinya dari kubangan problematika dunia menuju ‘Izzul Islam Wal Muslimin (yakni keagungan Islam dan Muslimin). Peliharah baik-baik sedikit banyak hasil perjuangan yang kita capai di bulan Ramadhan. Untuk kiranya dikembangkan di bulan-bulan yang lainnya dalam menjalani sisa perjalanan hidup di dunia ini. Semoga Allah memberkati amalan kita dan meridhoi serta mengampuni kita. Mari kita lanjutkan perjalan perjuangan yang masih panjang ini. Semoga kita menjadi orang-orang yang menang. Amin Ya Mujibas sa’ilin.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh. .

Disalin dari: http://alghuroba.org/ied2.php

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: