Tuntunan Sunnah Dalam Berhari Raya


Berpuasa Ramadhan ditutup dengan Iedul Fitri tgl. 1 Syawwal yang merupakan rangkaian penutup dari amalan puasa Ramadhan. Karena itu Ramadhan dinamakan pula oleh Nabi kita Muhammad shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam sebagai Syahru Ied (yakni bulan yang diakhiri dengan Ied atau Hari Raya). Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih nya (hadits ke 1912) dan Muslim dalam Shahih nya (hadits ke 1089) dari Abi Bakrah radliyallahu `anhu bahwa Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

“Dua bulan yang tidak akan berkurang, ialah Syahraa Iedin (yakni dua bulan yang terdapat padanya Ied, pent), yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari no. 1912 dan Muslim no. 1089 dan yang ini lafadh Muslim )

Dalam menerangkan pengertian hadits ini para Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah menerangkan hadits ini sebagai berikut:

Ibnu Hibban berkata: “Apa yang diberitakan dalam hadits ini ada dua makna, yang pertama: Bahwa pada kedua bulan yang ada padanya dua Hari Raya itu adalah dua bulan yang tidak berkurang pada hakikatnya, walaupun berkurang harinya menurut pandangan mata kita ketika terhalang antara kita dengan penglihatan kita terhadap hilal karena mendung atau kabut. Dan makna kedua ialah bahwa kedua bulan tersebut tidak berkurang satu dengan lainnya dalam keutamaannya. Yang dimaukan di sini ialah bahwa sepuluh Dzulhijjah itu sama dalam keutamaannya dengan bulan Ramadhan. Dan dalil yang menunjukkan pengertian demikian itu ialah sabda Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam : “Tidak ada hari-hari yang lebih utama untuk beramal padanya daripada sepuluh Dzulhijjah.” Ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah apakah juga berjihad di jalan Allah tidak lebih utama daripada amalan di hari tersebut?” Beliau menjawab: “Bahkan juga jihad di jalan Allah tidak lebih utama dari amalan di hari itu.” Demikian dijelaskan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih nya.

Al-Imam Al-Bukhari menerangkan: Ishaq berkata: “Walaupun kedua bulan tersebut berkurang harinya, namun keduanya sempurna.” Muhammad bin Ismail Al-Bukhari berkata: “Yakni kedua bulan tersebut tidaklah dalam setahun itu sama-sama berkurang harinya (atau sama-sama dua puluh sembilan hari, akan tetapi bila salah satunya dua puluh sembilan hari maka yang lainnya tiga puluh hari, pent).”

Demikian para Ulama menerangkan. Semua ini menunjukkan bahwa Iedul Fitri satu Syawwal adalah penyempurna amalan bulan puasa Ramadhan. Maka dari itu kita merayakan Iedul Fitri juga dalam rangka beribadah kepada Allah untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan. Oleh karenanya harus diterapkan pula dalam berhari raya itu ketentuan syarat sahnya ibadah kepada Allah, yaitu Al-Ikhlas (yakni diniatkan amalan itu semata-mata untuk Allah) dan Al Ittiba’ (yakni pengamalannya harus mengikuti tuntunan Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam ). Berikut ini kami bawakan untuk pembaca yang budiman beberapa tuntunan Sunnah Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam dalam merayakan Iedul Fitri untuk kiranya menjadi bimbingan bagi kita agar lebih sempurna amalan ibadah puasa Ramadhan kita di sisi Allah Ta`ala.

1). Allah Ta`ala membimbing kita dalam mengakhiri puasa Ramadhan dengan bertakbir, sebagaimana hal ini dinyatakan dalam firman-Nya:

“Dan agar kalian menyempurnakan bilangan hari bulan Ramadhan yang kalian diwajibkan puasa padanya dan agar kalian bertakbir membesarkan nama Allah sebagaimana yang Allah bimbing kalian dan semoga kalian dengan itu bersyukur kepada-Nya.” ( Al-Baqarah : 185)

Al-Imam Ibnu Jarir At-Thabari dalam Tafsir nya ketika menerangkan ayat ini membawakan riwayat Tafsir Ibnu Abbas radliyallahu `anhuma terhadap ayat ini. Ibnu Abbas menerangkan: “Wajib atas segenap kaum Muslimin bila melihat hilal tanggal satu Syawwal (di malam Iedul Fitri) untuk bertakbir membesarkan nama Allah sampai mereka mengakhiri Shalat Ied mereka, karena Allah Ta`ala berfirman: “Dan agar kalian menyempurnakan bilangan puasa Ramadhan dan agar kalian bertakbir setelah itu sebagaimana yang Ia telah bimbing kalian.”

Al-Imam Al-Baghawi dalam tafsir beliau membawakan riwayat Tafsir Ibnu Abbas ini dengan ringkas, dimana beliau menyatakan: “Yang dimaksud ayat ini ialah takbir-takbir di malam Iedul Fitri.” Juga Al-Baghawi membawakan riwayat Al-Imam As-Syafi’i yang memberitakan bahwa para Imam kalangan Tabi’ien yaitu Said bin Al-Musayyib, Urwah bin Az-Zubair, Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, mereka telah memberitakan bahwa para Shahabat Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam bertakbir pada malam Iedul Fitri dan mereka menyuarakan takbir itu.”

Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi dalam Al-Muhalla nya jilid 3 halaman 304 masalah ke 548 menyatakan: “Bertakbir pada malam Iedul Fitri adalah wajib, sedangkan takbir di malam Iedul Adl-ha adalah baik. Allah Ta`ala berfirman (kemudian beliau menukilkan penggalan akhir surat Al-Baqarah 185, dan setelah itu beliau menyatakan) maka dengan telah disempurnakannya puasa Ramadhan, wajib atas orang yang berpuasa itu untuk bertakbir dan cukuplah untuk melaksanakan kewajiban ini dengan sekali takbir. Akan tetapi malam Iedul Adhha dan siang harinya serta siang hari Iedul Fitri, maka bertakbir padanya tidak diperintahkan. Akan tetapi bertakbir padanya adalah perbuatan yang baik dan mendapat pahala.”

Demikianlah keterangan para Ulama tentang anjuran Allah Ta`ala untuk bertakbir sebagaimana yang dinyatakan oleh-Nya di ayat tersebut di atas. Jadi kita menyambut Iedul Fitri dengan menyuarakan takbir di mana-mana sejak malam hari raya sampai selesai pelaksanaan shalat Ied.

2). Kemudian diwajibkan pula atas setiap Muslim besar ataupun kecil, tua ataupun muda, lelaki ataupun perempuan, budak belian ataupun merdeka, untuk menunaikan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok (apakah beras atau yang lainnya) sebanyak kurang lebih dua setengah kilogram untuk setiap jiwa. Makanan tersebut diberikan kepada faqir miskin dengan ketentuan waktu sejak malam Hari Raya sampai sebelum menunaikan shalat Iedul Fitri. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dalam Al-Bukhari dalam Shahih nya hadits ke 1503, bahwa Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab radliyallahu `anhuma telah menyatakan: “Diwajibkan oleh Rasulullah shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam untuk mengeluarkan zakat fitrah sejumlah satu sha’ (yakni setara kurang lebih dengan satu setengah kilo gram, pent) dari kurma, atau satu sha’ dari gandum (yakni makanan pokok yang dikenal di waktu itu, pent). Kewajiban ini dibebankan atas hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar dari kalangan kaum Muslimin. Dan diperintahkan untuk ditunaikan zakat itu sebelum orang keluar dari rumah mereka untuk menunaikan shalat Ied.”

Adapun yang bertanggung jawab melaksanakan kewajiban ini adalah pimpinan keluarga yang dalam hal ini adalah suami atau wali keluarga tersebut.

3). Disunnahkan untuk mandi di pagi harinya dengan niat untuk menunaikan shalat Ied sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radliyallahu `anhuma dari perbuatan Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam (HR. Ibnu Majah dalah Sunan nya hadits ke 1315) . Dan hal ini juga diamalkan oleh para Shahabat Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattha’ nya dimana Nafi’ meriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar bin Al Khatthab radliyallahu `anhuma mandi pada Iedul Fitri sebelum keluar ke lapangan untuk menunaikan Shalat Ied. (HR. Malik dalam Muwattha’ nya jilid 1 halaman 94). Al-Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni jilid 2 halaman 112 masalah ke 1397 menyatakan bahwa di samping Ibnu Umar yang melakukan mandi untuk shalat Ied ini, Ali bin Abi Thalib radliyallahu `anhu juga melakukannya. Dan dari kalangan Tabi’in yang melakukan amalan ini disebutkan oleh beliau adalah Alqamah, Urwah bin Az-Zubair, Atha’, Ibrahim An-Nakha’i, Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi, Qathadah bin Di’amah. Juga disebutkan dari kalangan Tabi’it Tabi’in yang mengamalkannya ialah Abuz Zinad, Malik bin Anas dan As-Syafi’i dan juga Ibnu Mundzir.

4). Setelah mandi, disunnahkan untuk memakai pakaian yang paling bagus dari yang dimiliki serta bagi pria memakai wangi-wangian. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan dari perbuatan Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam , bahwa beliau berpakaian dengan pakaian yang paling bagus ketika menyiapkan diri hendak berangkat ke lapangan untuk menunaikan shalat Ied (dibawakan beberapa riwayat tentang ini oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni jilid 2 halaman 113 masalah ke 1398). Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan dalam Fathul Bari riwayat ibnu Abid Dunya dan Al-Baihaqi bahwa Ibnu Umar memakai pakaian yang paling bagus yang dipunyai untuk merayakan Idul Fitri dan Iedul Qurban. Ibnu Hajar meyakini bahwa riwayat tersebut shahih. ( Fathul Bari jilid 2 halaman 439).

5). Ketika akan berangkat menunaikan Shalat Iedul Fitri disunnahkan untuk makan atau minum terlebih dahulu. Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih nya hadits ke 953 dari Anas bin Malik, beliau menyatakan: “Rasulullah shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam terbiasa bahwa beliau tidak berangkat untuk shalat Iedul Fitri kecuali sebelumnya makan beberapa butir kurma. Dan beliau memakan jumlah butir kurma yang ganjil (yakni tiga butir atau lima butir dan seterusnya, pent).”

6). Diwajibkan pimpinan keluarga untuk membawa segenap keluarganya ke lapangan guna meramaikan pelaksanaan shalat Ied. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih nya hadits ke 974 dari Ummi Athiyyah radliyallahu `anha bahwa beliau memberitakan: “Kami diperintah oleh Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam untuk membawa keluar ke lapangan shalat Ied para wanita yang sedang haidh dan perawan pingitan. Dan wanita yang sedang haidh menempati tempat yang khusus terpisah dari tempat shalat.”

Bahkan dalam Shahih Al-Bukhari hadits ke 980 dari Hafshah bintu Sirin dari Ummu Athiyyah bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam , apakah para wanita yang tidak punya jilbab diijinkan untuk tidak berangkat ke lapangan? Hal ini dijawab oleh Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam : “Hendaknya saudaranya sesama Muslimah meminjamkan jilbabnya kepada yang tidak punya jilbab, agar mereka menyaksikan kebaikan di hari itu dan menyaksikan dakwahnya Muslimin.”

7). Disunnahkan pelaksanaan shalat Ied itu di lapangan dan bukan di masjid. Karena Nabi Muhammad shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam melaksanakan shalat Ied di lapangan meskipun Masjid Nabawi itu adalah seribu kali lipat keutamaannya dari masjid-masjid manapun di seluruh dunia kecuali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Demikian pelaksanaan shalat Ied itu di lapangan sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dan Nasa’i dari Abu Sa’id Al-Khudri radliyallahu `anhu .

8). Disunnahkan berangkat ke lapangan dan pulangnya mengambil jalan yang berbeda. Hal ini dicontohkan oleh Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam sebagaimana yang diberitakan oleh Jabir bin Abdullah Al-Anshari radliyallahu `anhuma , bahwa Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam berangkat ke lapangangan dan pulang daripadanya mengambil jalan yang berbeda. (HR. Bukhari dalam Shahih nya hadits ke 986)

9). Disunnahkan dalam pelaksanaan shalat Iedul fitri untuk diundurkan sampai matahari telah tinggi setinggi satu tombak. Adapun waktu shalat Iedul Qurban diawalkan sepagi mungkin sejak matahari baru saja terbit. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Shahabat Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam yang bernama Abdullah bin Busrin radliyallahu `anhuma bahwa Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam selesai menjalankan Shalat Iedul Fitri ketika awal waktu shalat Dluha ( HR. Bukhari dalam Shahih nya hadits mu’allaq (yakni tidak bersanad) dalam keterangan hadits ke 968) . Disunnahkan pula setelah selesai menunaikan shalat untuk mendengarkan dengan khidmat khutbah Ied.

10). Disunnahkan setelah pelaksanaan shalat Ied itu untuk menampakkan suasana kegembiraan dengan mengadakan berbagai atraksi permainan apapun yang menimbulkan kegembiraan tetapi dengan syarat tidak melanggar apa saja yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dibolehkan di Hari Raya itu untuk menabuh gendang, ketipung dan sejenisnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mukminin dalam Shahih Al-Bukhari hadits ke 949.

11). Disunnahkan pula dalam suasana Ied itu untuk saling mengucapkan lafadh taqabbalallahu minna wa minkum (Artinya: “Semoga Allah menerima ibadah kita dan ibadah kalian”). Hal ini sebagaimana telah diterangkan tentang perbuatan para Shahabat Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari jilid 2 halaman 446 sebagai berikut: “Dan telah diriwayatkan kepada kami dalam kitab Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, bahwa beliau menyatakan: Para Shahabat Rasulullah shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam biasanya bila bertemu satu dengan lainnya di Hari Raya, saling mengucapkan satu dengan lainnya: Taqabbalallhu minna wa minka.

Demikianlah beberapa tuntunan Sunnah Nabi shalallahu `alaihi wa alihi wa sallam dalam merayakan hari Iedul Fitri dengan niat dalam rangka menyempurnakan ibadah puasa kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah menjadikan Hari Raya kita penuh barakah dan kegembiraan dalam bersyukur kepada nikmat-Nya. Dan semoga kita dijadikan oleh-Nya menjadi hamba-Nya yang suka bersyukur kepada nikmat-Nya yang tak terhingga. Amin Ya Mujibas sa’ilin .

Disalin dari : http://alghuroba.org/ied.php

2 Tanggapan to “Tuntunan Sunnah Dalam Berhari Raya”

  1. aboe azka Says:

    assalamualaikum
    ana minta artikel ini yah, buat sanlat disekolahan nich hari ini ngisi sanlat, biar ridho dan ikhlas yah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: