Al Qur`an Memperkenalkan Islam

Allah memperkenalkan kepada Rasul-Nya untuk selanjutnya juga diperkenalkan kepada kita (ummat Islam) tentang agama Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad Shalallahu `Alayhi Wasallam, yakni agama Islam. Perkenalan Allah ini terdapat dalam surat Yuusuf 108: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiirah (hujjah yang nyata), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” Didalam ayat ini Allah Ta`aala memperkenalkan serta mengajak RasulNya untuk memperkenalkan agama ini dengan cirri-cirinya yaitu:

1.Mengajak kepada Allah Ta`aala. Apa sebenarnya yang ada pada Allah sehingga kita diajak kepada Allah-Nya? Pertanyaan ini dijawab langsung oleh Allah Ta`aala dalam surat Al Baqarah 147: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” Dalam ayat diatas, Allah Ta`aala memberitakan bahwa Allah ialah pihak yang memiliki kebenaran, sehingga kita diajak kepada Allah yang artinya diajak kepada kebenaran. untuk kemudian meyakini kebenaran tersebut dengan tanpa ragu. Setelah kita mengetahui tentang apa yang ada pada Allah Ta`aala, maka muncul pertanyaan, sebenarnya Allah itu mengajak kita kemana dengan kebenaran yang ada padaNya tersebut? Pertanyaan ini juga langsung dijawab oleh Allah di dalam surat Al Baqarah 257: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaithan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” Dalam ayat diatas Allah Ta`aala menjelaskan bahwa bagi siapa saja yang beriman kepada Allah, maka Allah akan menjadi pelindung yang mengarahkan mereka untuk keluar dari dzhulumaat (berbagai kegelapan) ketika mereka belum mengenal dan masuk Islam, menuju kepada nuur (cahaya) yakni Islam. Cahaya itu adalah suatu yang jelas. Agama itu diistilahkan oleh Allah Ta`aala dalam surat Yuusuf 108 diatas dengan istilah bashiirah yang bermakna mata hati. Mata hati itu dapat melihat cahaya kebenaran ketika mata itu sehat. Mata hati itu tidak bisa melihat apa-apa dan terganggu penglihatannya kepada cahaya Allah ketika ia dipenuhi oleh debu kesyirikan, kekufuran, kebid`ahan dan kemaksiatan lainnya. Jadi agama ini diserukan kepada kejelasan dan kepastian yang datang dari Allah Ta`aala diatas dasar bashiirah. Dalam hal ini makna bashiirah (mata hati) dalam surat Yuusuf 108 ini ialah Ilmu, ini sebagaimana diterangkan oleh Ibnu `Abbaas Radhiallahu `Anhuma yang keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Abii Haatim dalam tafsirnya dengan sanad shahih Kalau ditanyakan ilmu apa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut yang ilmu itu digunakan untuk mengajak orang kepada kebaikan Islam? Maka jawabannya ialah ilmu agama (Al Qur`an dan Assunnah) sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam: “Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya” [Dikeluarkan oleh Al Bukhaari dan Muslim di dalam shahih keduanya dari hadits Mu’awiyah Rahiallahu ‘anhu] Jadi mudahnya seseorang dalam memahami ilmu agama merupakan salah satu indikasi bahwa Allah Ta`aala menginginkan kebaikan atas orang tersebut. Dan ketinggian derajat suatu ilmu sesuai dengan ketinggian materi yang dibahas, semakin tinggi materi pembahasan maka semakin tinggi pula level ilmu tersebut. Dan yang dibahas dalam agama ini ialah tentang dzat yang tertinggi yakni tentang Allah Ta`aala, siapa Ia, apa hak dan kewajiban-Nya dan seterusnya, sehingga ilmu agama ini merupakan ilmu yang tertinggi dibandingkan ilmu-ilmu yang lainnya. Oleh sebab itu kalau disebutkan ilmu didalam Al Qur`an dan Assunnah maka maknanya ialah ilmu agama, yang dimaksud ilmu agama adalah yang berasal dari Allah (Al Qur`an) dan RasulNya (Assunnah/Al Hadits). Adapun ilmu-ilmu selain ilmu agama (Al Qur`an dan Assunnah) ialah hambanya ilmu yang harus dikontrol penggunaannya oleh ilmu agama sebagaimana layaknya budak dikendalikan oleh tuannya, sehingga setiap pendapat dan perbuatan harus dikendalikan oleh rambu-rambu Al Qur`an dan Assunnah dan memiliki dasar dari Al Qur`an dan Assunnah agar perjalanan menuju Allah tadi dapat berjalan sesuai denga kehendak yang mempunyai jalan (yakni Allah Ta`ala) karena jalur informasi yang digunakan adalah satu-satunya jalur informasi yang resmi yakni Al Qur`an dan Assunnah . 2.Munculnya sikap menyatakan tasbih kepada Allah Ta`aala sebagai akibat pendidikan dengan ilmu/bashiirah ini, yakni sikap selalu bertsabih mensucikan nama Allah Ta`aala dan sifat-sifatnya dari segala kekurangan dan menyanjung kemuliaan Allah Ta`aala yang Maha Sempurnya serta bersikap anti pati kepada perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. Mengapa kita diajari oleh Allah Ta`aala untuk anti pati terhadap syirik dan musyrikin? Dalam hal ini Allah menawarkan konsep keselamatan beragama melalui firmannya dalam surat Al Baqarah 256: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Ini adalah konsep beragama yang dijamin oleh Allah lanfishaamalaha (tidak akan putus), dimana apabila seorang mukmin bersikap ingkar kepada Thaghuut (semua pihak yang menjadi sebab seseorang durhaka kepada Allah) dan iman kepada Allah, maka ia dijamin oleh Allah telah berpegang kepada Tali yang amat kuat (agama Islam) yang tidak akan putus. Makna thaaghuut sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah yakni: ”semua pihak yang menjadi sebab hamba Allah melanggar ketentuan Allah maka ia thaaghuut apakah dalam bentuk sesembahan, tokoh yang diikuti atau pimpinan yang diataati”. Maka syirik merupakan perbuatan yang paling membuat marah Allah, sementara musyrik merupakan orang yang paling dibenci Allah. Sehingga Allah namakan mereka dengan nama yang paling jelek yakni thaaghuut (orang yang melampaui batas) yakni semua pihak yang menjadi sebab orang lain durhaka kepada Allah, dimana Thaaghuut ini memiliki misi perjuangan yakni sebagaimana diberitakan oleh Allah dalam surat Al Baqarah 257 diatas adalah “mengeluarkan mereka (manusia) dari cahaya kepada berbagai kegelapan (kekafiran)”. Demikianlah Allah memperkenalkan Islam kepada kita, dimana Islam selalu memiliki ciri-ciri yang tidak dimiliki oleh agama-agama lainnya yaitu mengajak kepada Allah melalui hujjah (argumen) yang kokoh dan dalil yang jelas karena selalu didasari dengan bashiirah (ilmu), serta senantiasa bersikap memuji Allah yang diikuti dengan sikap antipati terhadap segala sesuatu yang dibenci dan dimurkai oleh Allah. Sebuah cara beragama yang penuh dengan kepastian dan keyakinan, yang tidak menyisakan setitik celah-pun bagi kita untuk ragu. Wallahu A`lamu Bishshawaab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: